MEDIA24.ID - Kepresidenan Urusan Agama Masjidil Haram dan Masjid Nabawi mengumumkan bahwa penerjemahan khotbah Arafah akan mencakup 50 bahasa, menjadikannya proyek penerjemahan terbesar dalam sejarah Arab Saudi.
Pengumuman ini disampaikan melalui kantor berita Saudi, SPA, pada Rabu, 12 Juni 2024. Inisiatif ini dipelopori oleh Penjaga Dua Masjid Suci, Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, dan menandai sebuah proyek global yang ambisius.
Proyek penerjemahan khotbah Arafah pertama kali diluncurkan pada tahun 2018 dengan hanya lima bahasa yang tersedia untuk diakses oleh jemaah haji. Kurang dari satu dekade kemudian, Kerajaan Arab Saudi telah memperluas penerjemahan tersebut menjadi 50 bahasa.
"Ini mencerminkan dedikasi Kerajaan Arab Saudi dalam menyebarkan pesan moderasi dan nilai-nilai Islam dalam skala global," demikian yang dilaporkan oleh SPA.
Baca Juga: ITB Terima 1.752 Calon Mahasiswa Baru dari Jalur SNBT 2024, Ini Jadwal Daftar Ulang
Inisiatif ini bukan hanya tentang kuantitas bahasa, tetapi juga tentang kualitas dan tujuan mulia dari penyampaian pesan.
Kepresidenan Urusan Agama bercita-cita untuk menjangkau satu miliar pendengar di seluruh dunia, memupuk pemahaman yang lebih besar, dan mengkampanyekan perdamaian melalui pesan khotbah Arafah.
Hal ini menunjukkan komitmen Arab Saudi dalam mempromosikan nilai-nilai Islam yang damai dan moderat di panggung internasional.
Khotbah Arafah tahun ini akan berlangsung pada Sabtu, 15 Juni 2024. Kepresidenan Urusan Agama telah menunjuk Syekh Maher bin Hamad Al-Muaiqly sebagai khatib wukuf di Arafah.
Penunjukan ini telah mendapat persetujuan dari Kerajaan Arab Saudi. Syekh Maher adalah salah satu imam Masjidil Haram yang terkenal dan memiliki pengalaman sebagai khatib Masjidil Haram pada Ramadan 1437 H/2016 M, dengan khotbah pertamanya tercatat pada 15 Juli 2016.
Baca Juga: Akhirnya Atalarik Syach Bongkar Penyebab Perseteruan dengan Tsania Marwa
Arab News melaporkan bahwa khotbah Arafah akan disampaikan oleh Syekh Maher di Masjid Nabira, masjid terbesar kedua di wilayah Makkah setelah Masjidil Haram. Masjid ini dibangun di lokasi di mana Rasulullah SAW menyampaikan khotbah Arafah saat haji wada.
Inisiatif besar ini mendapat pujian luas dari berbagai kalangan. Penggunaan teknologi penerjemahan untuk menyampaikan khotbah dalam berbagai bahasa adalah langkah maju yang signifikan dalam memastikan bahwa pesan perdamaian dan toleransi Islam dapat diterima oleh lebih banyak orang di seluruh dunia.