MEDIA24.ID, YOGYAKARTA – Masyarakat miskin lebih sering mengonsumsi pangan nabati dan tepung dalam jumlah besar dibanding produk hewani bernilai tinggi, yang berdampak buruk pada kualitas gizi dan rendahnya Sumber Daya Manusia, ujar ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM Yogyakarta).
Mujtahidah Anggriani Ummul Muzayyanah saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Ekonomi Keperilakuan Produk Peternakan pada Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta mengatakan rumah tangga berpenghasilan rendah harus mempriotaskan pemenuhan kebutuhan pangan dasar.
Kondisi ini membuat mereka tidak terlalu memikirkan konsumsi produk peternakan yang merupakan sumber protein nabati, meski memiliki peranan penting dalam pemenuhan gizi anak-anak yang akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan.
Baca Juga: Lezatnya Idul Adha, Resep Olahan Daging Kurban yang Mudah dan Praktis
“Sebagian besar disebabkan oleh fakta bahwa rumah tangga kelompok ini harus memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pangan dasar,” jelasnya dalam pidato pengukuhan berjudul “Transformasi Perilaku Konsumsi Pangan Produk Peternakan Dalam Perspektif Ekonomi Malnutrisi”, Selasa (18/2).
Rumah berpenghasilan rendah juga sulit mendapatkan susu dan pangan hewani bernilai tinggi lain.
Kurangnya konsumsi protein hewani ini disebabkan tingginya harga produk hewani sehingga mereka memilih makanan protein hewani dengan kualitas yang lebih rendah.
Menurut data dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada 2023 rata-rata konsumsi daging sapi segar masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,5 kilogram/kapita/tahun.
Sedangkan total ebutuhan daging sapi segar untuk konsumsi rumah tangga nasional pada 2023 mencapai 139,47 ribu ton/tahun.
Angka konsumsi daging di Indonesia masih jauh tertinggal bahkan jauh dari anjuran kesehatan sebanyak 350 - 500 gram per minggu.
Dibanding Malaysia, Indonesia juga tertinggal. Konsumsi daging sapi di negara itu mencapai 5,72 kilogram/kapita/tahun.
“Asupan makanan dan status gizi yang terkait dengan pembangunan ekonomi didorong oleh interaksi harga dan pendapatan dengan inovasi dalam produksi, distribusi, dan pemasaran pangan,” ujar dia.
Menurutnya, keputusan konsumen dalam memilih pangan berdasarkan faktor pendapatan, harga, dan preferensi yang menentukan tingkat permintaan pangan.
Artikel Terkait
Pakar Gizi IPB Ungkap Eating Disorder pada Remaja
Edukasi Gizi Seimbang untuk Anak-Anak Indonesia, Bijak Lakukan Ini
Maximus 'Gladiator' Tipagau: Mimika Punya Anggaran Besar, Kenapa Pendidikan Masih Susah dan Gizi Buruk Masih Ada?
Saran Ahli Gizi UGM Yogyakarta untuk Makan Bergizi Gratis: Nutrisi Cukup, Penyajian juga Menarik
Peringatan Hari Gizi Nasional, Orang Tua Perlu Libatkan Anak dalam Menyiapkan Makanan