MEDIA24.ID, JAKARTA — Pimpinan lembaga energi dan keuangan dunia menyerukan bahwa negara-negara miskin mengalami goncangan lebih keras akibat tindakan agresif Amerika Serikat dan Israel pada Iran.
Kepala International Energy Agency (IEA), International Monetary Fund (IMF), dan World Bank Group sepakat bahwa ketidakpastian global masih tinggi,
“Dampak perang ini signifikan, berskala global, dan sangat tidak merata, dengan efek paling besar dirasakan oleh negara-negara pengimpor energi, khususnya negara berpendapatan rendah,” ujar pernyataan bersama Selasa (14/4) atau Senin (13/4) waktu Washington.
Baca Juga: Menanggapi Perang Iran, Prabowo Ajak Diskusi Jowoki, SBY, dan Megawati
Menurut pernyataan tersebut, kenaikan harga minyak, gas, dan pupuk telah memicu kekhawatiran terkait keamanan pangan dan potensi kehilangan pekerjaan.
“Beberapa produsen minyak dan gas di Timur Tengah mengalami penurunan pendapatan ekspor yang drastis.”
Ketidakpastian global dipicu oleh arus pelayaran melalui Selat Hormuz belum sepenuhnya normal, dan meski jalur tersebut kembali beroperasi.
Kondisi ini membuat pasokan global beberapa komoditas penting diperkirakan membutuhkan banyak waktu untuk kembali ke tingkat sebelum konflik.
Baca Juga: Bahlil Dampingi Presiden Prabowo ke Rusia Pastikan Pasokan Minyak Aman
Harga bahan bakar dan pupuk kemungkinan akan tetap tinggi dalam jangka waktu lama akibat kerusakan infrastruktur.
Gangguan pasokan ini juga diperkirakan berdampak pada sektor energi, pangan, dan industri lainnya.
Perang tersebut tidak hanya mempengaruhi pasar, tetapi juga memaksa perpindahan penduduk, menurunkan tingkat pekerjaan, serta mengurangi aktivitas perjalanan dan pariwisata, yang membutuhkan waktu untuk pulih.
Lembaga-lembaga ini akan terus memantau dampak perang terhadap energi dan ekonomi global serta bersiap membantu negara-negara paling terdampak.
DPR Minta Diversifikasi Sumber Energi
Anggota DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Ratna Juwita mendesak pemerintah segera mewujudkan kemandirian energi.