Tradisi Santri Ikut Bangun Pesantren Begini Kata Gus Yahya

Photo Author
Moh Purwadi, Media 24
- Sabtu, 11 Oktober 2025 | 05:29 WIB
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf saat kegiatan kick off Hari Santri di Gedung PBNU, Kramat, Jakarta Pusat, Jumat (10/10/2025). (Foto/Dok/Media24.id)
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf saat kegiatan kick off Hari Santri di Gedung PBNU, Kramat, Jakarta Pusat, Jumat (10/10/2025). (Foto/Dok/Media24.id)

MEDIA24.ID, JAKARTA - Tradisi santri membantu proses pengecoran pembangunan di pesantren menjadi sorotan publik setelah bangunan musala tiga lantai di asrama putra Pondok Pesantren Al Khozinya, Sidoarjo, ambruk pada Senin sore (29/9/2025).

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menegaskan, keterlibatan santri dalam kegiatan pembangunan pesantren bukan bentuk eksploitasi. Menurutnya, tradisi tersebut merupakan bagian dari proses pendidikan di pondok pesantren.

“Santri itu punya tiga hal utama, yaitu tholabul ilmi, tazkiyatun nafs, dan jihad fi sabilillah. Jadi, kegiatan di pesantren bukan hanya belajar untuk mengisi otak dengan pengetahuan, tetapi juga melatih diri dalam berkhidmat, membersihkan jiwa, serta memberikan pelayanan dengan niat yang tulus,” ujar Gus Yahya.

Baca Juga: Wamenag Dorong Percepatan Pembentukan Ditjen Pesantren

Menurutnya, kerja bakti di lingkungan pesantren sama halnya dengan gotong royong di masyarakat saat membangun sebuah bangunan.

“Kalau kerja bakti, ya sama saja seperti di kampung—bersih-bersih got itu juga kerja bakti. Masa dianggap mempekerjakan orang kampung?” katanya usai kegiatan kick off Hari Santri di Gedung PBNU, Kramat, Jakarta Pusat, Jumat (10/10/2025).

Menurut Gus Yahya, kegiatan membangun gedung di pesantren dilakukan untuk kepentingan para santri sendiri, misalnya pembangunan madrasah atau asrama yang akan mereka gunakan.

Baca Juga: Launching Akminas 2025, Kemenag Ingatkan Mahasiswa PTK Tak Pilih-pilih dalam Menebar Kebaikan

“Membuat gedung untuk madrasah itu untuk kegiatan belajar mereka. Membangun kamar-kamar juga untuk tempat tinggal mereka sendiri. Jadi, ini soal tradisi pesantren, bukan soal mempekerjakan santri,” jelasnya.

Ia menegaskan, pesantren bukanlah badan usaha yang mencari keuntungan, melainkan lembaga pengabdian (khidmat) non-profit yang dijalankan dengan ikhlas untuk memberi kesempatan belajar bagi anak-anak.

“Justru hal itu menjadi contoh bagaimana kita menghadapi masa dan tantangan bersama dengan bersatu dan bekerja sama,” pungkasnya. ***

Editor: Moh Purwadi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

HUT ke-74 Kopassus 2026: Garda Senyap untuk Negeri

Kamis, 16 April 2026 | 15:40 WIB
X