MEDIA24.ID, JAKARTA-Musim kemarau mengancam akan melanda wilayah Indonesia mulai 19 Juli 2024. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengingatkan adanya ancaman kondisi tersebut.
BMKG mengimbau agar menghindari aktivitas luar ruangan. Terutama pada saat sinar matahari berada pada waktu terpanasnya yaitu pukul 11.00-15.00.
BMKG juga menyarankan agar melindungi diri dari paparan langsung sinar matahari. Dan menjaga kecukupan cairan tubuh agar tak mengalami dehidrasi dan kondisi buruk lainnya.
Baca Juga: BMKG Ingatkan Kondisi Siaga! Kemarau Ancam Wilayah Selatan Indonesia
Berikut ini tips hadapi musim kemarau dari BMKG:
- Menggunakan air dengan bijaksana dan hemat akibat rendahnya curah hujan yang mengisi sumber-sumber air.
- Hindari membuka lahan dengan membakar, terutama pada daerah hutan yang bertanah gambut akibat mudah terbakar dan sulit dimatikan.
- Lindungi diri dari suhu dingin dengan mengenakan pakaian hangat, terutama pada malam dan dini hari saat suhu turun drastis. Gunakan selimut atau penghangat ruangan jika diperlukan.
Baca Juga: BMKG Tegaskan Udara Dingin Bukan karena Aphelion
- Bagi petani, disarankan untuk melindungi tanaman yang sensitif terhadap suhu rendah dengan menggunakan mulsa, rumah kaca, atau pemanas.
- Waspada terhadap potensi jalan licin akibat embun beku yang terbentuk pada malam hari di daerah yang mengalami bediding ekstrem.
- Lindungi diri dari paparan langsung sinar matahari dan menghindari aktivitas luar ruangan terutama pada jam-jam terpanas (pukul 11 hingga 15).
- Senantiasa menjaga kondisi stamina tubuh dan kecukupan cairan tubuh, terutama bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari supaya tidak terjadi dehidrasi, kelelahan dan dampak buruk lainnya.
- Siapkan rencana darurat untuk menghadapi kemungkinan krisis air selama musim kemarau, termasuk penyediaan cadangan air minum dan peralatan penyaringan air.
- Waspada dan antisipasi dini terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi di beberapa wilayah seperti hujan lebat dalam durasi singkat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang.
- Khusus untuk daerah bertopografi curam/bergunung/tebing atau rawan longsor dan banjir agar tetap waspada terhadap dampak yang ditimbulkan akibat cuaca ekstrem seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, jalan licin, pohon tumbang dan berkurangnya jarak pandang.
Artikel Terkait
BMKG Ungkap Penyebab Udara Dingin di Indonesia: Bukan Karena Aphelion