Novi Diah Haryanti, mahasiswa S3 UI dan Dosen UIN Jakarta menerima penghargaan penulisan pascariset Nusantara Academic Writing Award (NAWA) 2025.
Dorong ilmuwan muda lebih mencintai bangsa dan budaya Indonesia
Sejak 2019, tercatat ada 50 penerima penghargaan (awardee) NAWA dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Mereka dipilih melalui kompetisi nasional yang sangat ketat dengan melibatkan lebih dari 18 dewan juri setiap tahunnya. Juri terdiri dari akademisi, guru besar, dan praktisi berkompeten.
Pada tahun 2025, juri yang terlibat antara lain Sumanto Al Qurtuby, PhD (founder & director, Nusantara Institute), Dr. Tedi Kholiluddin, Prof. Dr. M. Mukhsin Jamil (UIN Walisongo, Semarang), Prof. Dr. Mudjahirin Tohir (Universitas Diponegoro), Prof. Dr. Jaenal Effendi (IPB).
Dewan juri yang lain adalah Prof. Asfa Widiyanto, D.Phil (UIN Salatiga), Prof. M. Nur Ichwan, PhD (UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta), Prof. Dr. Islah Gusmian (UIN Surakarta), Dr. Zastrouw Al Ngatawi (Universitas Indonesia), Dr. Deta Maria (UKSW), dan lain-lain.
Sumanto Al Qurtuby, PhD mengatakan bahwa program ini dimaksudkan untuk memberi dorongan atau stimulan bagi para akademisi dan intelektual muda yang sedang menyelesaikan penulisan tesis magister atau disertasi doktor agar segera menyelesaikan studi magister/doktoral mereka.
"Program ini juga dimaksudkan untuk mendorong para ilmuwan muda agar lebih mencintai bangsa dan budaya Indonesia," kata Sumanto Al Qurtuby dalam sambutannya.
Direktur BCA Antonius Widodo Mulyono mengatakan, pihaknya mengapresiasi program NAWA sebagai bagian dari upaya untuk melestarikan dan memajukan kearifan lokal dan budaya Nusantara yang kaya melalui karya akademik ilmiah.
Program ini sangat penting karena Indonesia mempunyai banyak peninggalan tradisi dan budaya warisan para leluhur dan kerajaan tempo dulu yang perlu terus dipelajari, digali, dan dikaji melalui berbagai macam cara termasuk riset ilmiah dan penulisan tesis/disertasi.
Sementara itu Felicia Hanitio, Deputy Director Bakti Pendidikan Djarum Foundation, bilang bahwa program ini bagian upaya untuk melestarikan dan memajukan kebudayaan Indonesia, khususnya di dunia akademik.
Dia berharap para awardees tidak menjadikan award sebagai akhir dari perjuangan tetapi awal dari kiprah akademik membangun bangsa yang berbudaya dan berbasis teknologi.
Rektor UKSW, Prof. Dr. Intiyas Utami, dan Kepala LLDIKTI Wilayah VI, Jawa Tengah, Prof. Dr. Ir. Aisyah Endah Palupi, juga mengapresiasi kegiatan NAWA. Mereka menilai program ini sangat positif bagi para akademisi, khususnya akademisi muda calon master dan doktor, agar lebih peduli dengan kesenian, kebudayaan, kerajaan, dan keagamaan Nusantara.
Diharapkan karya-karya ini bukan hanya sebatas “karya ilmiah” yang berhenti di ruang kelas dan/atau gedung perpustakaan, tetapi bisa berdampak positif bagi publik dalam bentuk implementasi kerja nyata di masyarakat dalam berbagai bentuk program sosial-kemasyarakatan.