sekolah

Gubernur Dedi Mulyadi Tegaskan Larang Study Tour, Pertimbangan Ekonomi dan Sosial jadi Alasannya

Selasa, 25 Maret 2025 | 09:19 WIB
Gubernur Dedi Mulyadi Tegaskan Larang Study Tour, Pertimbangan Ekonomi dan Sosial jadi Alasannya (Dok. Instagram )

MEDIA24.ID, JAKARTA-Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa kebijakan pelarangan study tour di wilayahnya tetap berlaku, meskipun Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, telah memberikan izin bagi sekolah untuk kembali melaksanakan kegiatan tersebut. 

Menurut Dedi, selama ini study tour lebih banyak bersifat rekreasi daripada memiliki nilai edukasi yang jelas. 

“Study tour itu bukan sekadar urusan bus atau perjalanan, tetapi lebih kepada bisnis di baliknya. Seharusnya ini perjalanan pendidikan, tapi faktanya lebih banyak didominasi oleh travel dan bisnis pariwisata. Jika seperti itu, namanya bukan study tour, melainkan piknik,” ujar Dedi, dikutip Selasa (25/3/2025). 

Baca Juga: Mendikdasmen Tak Larang Study Tour, Ini Hal Penting yang Harus Diperhatikan!

Dedi, yang akrab disapa KDM (Kang Dedi Mulyadi), menjelaskan bahwa keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan stabilitas ekonomi masyarakat, khususnya bagi orang tua dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. 

Menurutnya, tidak sedikit orang tua yang harus berutang atau menjual barang berharga demi membiayai anak mereka ikut study tour. 

“Tidak boleh anak piknik di atas rintihan orang tua. Saya tahu bagaimana kondisi ekonomi masyarakat Jawa Barat. Banyak orang tua yang terpaksa berutang atau menjual barang demi membiayai study tour anaknya. Ini bukan hal sepele. Ada yang harus mengeluarkan uang jutaan rupiah, padahal itu bukan perkara kecil bagi mereka,” tegasnya. 

Selain beban ekonomi, Dedi juga menyoroti dampak sosial dari study tour yang berpotensi melahirkan kesenjangan di antara siswa di sekolah. 

Baca Juga: Imbas Kecelakaan Maut di Subang, Pj Wali Kota Bogor Instruksikan Kegiatan Study Tour Dihentikan

“Posisi siswa di kelas bisa menjadi minder karena tidak ikut study tour. Ini melahirkan masalah sosial. Saya melarang study tour karena saya peduli dan sayang terhadap warga Jawa Barat, bukan karena alasan lain,” jelasnya. 

Sebagai solusinya, KDM menyarankan agar sekolah tetap bisa mengadakan kegiatan pendidikan di luar kelas tanpa harus membebani orang tua dengan biaya besar. 

Ia menekankan bahwa esensi pendidikan tidak terletak pada perjalanan jauh, melainkan pada pembelajaran yang bermakna dan dapat dilakukan di lingkungan sekitar. 

“Kalau memang mau study tour, tidak usah jauh-jauh. Lingkungan sekitar masih banyak yang bisa dijadikan bahan pembelajaran. Sampah menumpuk di mana-mana, sekolah masih banyak yang kumuh, itu yang seharusnya menjadi perhatian. Pendidikan tidak boleh berhenti di level formal saja,” katanya. 

Dedi juga menegaskan bahwa kebijakan ini sejalan dengan upaya penguatan pendidikan berkarakter di Jawa Barat. 

Halaman:

Tags

Terkini