MEDIA24.ID, JAKARTA - Jelang dan usai Hari Raya Idul Fitri kepadatan di jalur-jalur utama yang menghubungkan antar provinsi dipastikan meningkat tajam.
Di Pulau Jawa kemacetan karena tradisi mudik merupakan hal yang lumrah ditemukan jelang pelabuhan penyeberangan ke Pulau Sumatera.
Begitu juga di gerbang keluar tol di kota-kota utama di Pulau Jawa. Sebelum adanya Tol Trans Jawa, kemacetan panjang pasti dengan mudah ditemui di Jalur Pantura atau pantai utara Pulau Jawa.
Pakar tata kota Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr I Gusti Ayu Andani, menyebut fenomena semacam mudik tidak hanya terjadi di Indonesia.
Baca Juga: Mengapa Banyak Orang Memilih Mudik ke Kampung Halaman pada Malam Hari dengan Sepeda Motor?
Perjalanan massal orang-orang menuju kampung halaman juga menjadi tradisi yang bisa dilihat di negara lain.
"Seringkali terkait dengan perayaan tradisional atau liburan nasional. Seperti Lunar New Year di China atau Thanksgiving di Amerika," ungkap Andani dikutip Media24 dari keterangan tertulis ITB pada Kamis (11/4/2024).
Pakar dari Kelompok Keahlian Sistem Infrastruktur Wilayah dan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan ITB ini menerangkan bahwa mudik terjadi sebagai akibat langsung urbanisasi.
Individu yang telah pindah ke kota besar ingin kembali ke kampung halaman untuk merayakan hari raya dengan keluarga dan teman.
Baca Juga: Lulusan Kampus Ini Bisa Dapat Diskon Tiket Kereta, Cocok Buat Mudik Lebaran Nih
Andani menerangkan penyebab kemacetan saat mudik sangat beragam dan kompleks.
Hal ini menyebabkan kemacetan menjadi suatu hal yang tak lagi dapat terhindarkan pada musim libur lebaran.
"Di kota besar, sebut saja Jakarta dan Bandung, pada hari-hari biasa saja arus lalu lintas sudah sangat padat,” ujarnya.
Saat mudik volume lalu lintas menuju kota atau daerah tujuan melonjak sangat signifikan. Nah, infrastruktur jalan di beberapa daerah tidak dirancang untuk menangani volume lalu lintas yang begitu besar.