Bikin Ngeri! Ini 4 Temuan Mencengangkan Tentang Perubahan Iklim di Tahun 2023, Ilmuwan Pun Sampai Khawatir

Photo Author
G Febrianto, Media 24
- Jumat, 12 April 2024 | 08:56 WIB
Ilustrasi Pegunungan Alpen, Swiss  (Pixabay/ Leonhard_Niederwimmer)
Ilustrasi Pegunungan Alpen, Swiss (Pixabay/ Leonhard_Niederwimmer)

MEDIA24.ID, JAKARTA - Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) beberapa waktu lalu mengeluarkan State of Global Climate 2023 yang menyoroti perubahan iklim yang terjadi di tahun tersebut.

Laporan tersebut menunjukkan terjadi perubahan alam secara ekstrem di berbagai belahan dunia. Dikutip dari Science Focus ada 4 temuan yang bahkan membuat para ilmuwan bidang lingkungan tercengang.

1. Swiss Kehilangan Gletser 10 % dalam 2 Tahun

Di Swiss, 10 persen dari gletser telah hilang hanya dalam dua tahun terakhir.

Gletser, yang terbentuk dari salju yang memadat menjadi es di daerah pegunungan yang dingin, bergerak perlahan menuruni lereng seperti sungai es, membentuk bentang alam gunung selama berabad-abad.

Menurut laporan dari WMO tahun 2022-2023, kehilangan es glasial ini merupakan yang terbesar yang pernah tercatat, terutama di Amerika Utara dan Eropa.

Prof Jonathan Bamber dari Pusat Glasiologi Bristol mengatakan, “Adalah sangat mengejutkan melihat hilangnya 10 persen volume gletser di Pegunungan Alpen Eropa hanya dalam dua tahun. Jika tren ini terus berlanjut, Pegunungan Alpen bisa kehilangan sebagian besar gletsernya dalam beberapa dekade mendatang."

2. Sepertiga Permukaan Lautan Alami Gelombang Panas

Pada tahun 2023, sepertinya sepertiga dari permukaan lautan mengalami gelombang panas. Ini merupakan dampak dari kenaikan suhu laut yang tidak hanya terjadi di permukaan.

Laporan terbaru menunjukkan bahwa sekitar 90 persen energi yang terakumulasi di bumi sejak tahun 1971 disimpan di lautan, menyebabkan peningkatan suhu dan volume laut.

Ini tercatat sebagai rekor tertinggi sejak pengamatan dimulai, dengan gelombang panas laut tahunan meningkat menjadi 32 persen dari 23 persen pada tahun 2016.

3. Kerugian Bisa Capai Rp 20 Kuintiliun

Target net zero dan beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim membutuhkan biaya yang sangat besar.

WMO memperkirakan bahwa investasi pendanaan iklim perlu meningkat hampir enam kali lipat, mencapai hampir USD 9 triliun pada tahun 2030. 

Namun, tanpa tindakan yang signifikan, kerugian akibat perubahan iklim dari tahun 2025 hingga 2100 bisa mencapai USD 1.266 triliun (Rp 20 kuintiliun).

Dr David Rippin dari Universitas York menekankan, “Mengambil tindakan sekarang jauh lebih masuk akal dan mendesak, mengingat kerugian yang akan diakibatkan jika tidak ada tindakan sama sekali.”

4. Rekor Penurunan Es Laut Antartika

Antartika, yang sangat rentan terhadap perubahan iklim, mencatatkan rekor terendah es laut pada bulan Februari selama era satelit, dengan cakupan es laut maksimumnya 1 juta km² lebih rendah dari rekor sebelumnya.

Halaman:

Editor: G Febrianto

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini

HUT ke-74 Kopassus 2026: Garda Senyap untuk Negeri

Kamis, 16 April 2026 | 15:40 WIB
X