Banyak warga Magelang dan sekitarnya yang sengaja datang ke kawasan Mendut agar bisa melihat langsung kemeriahan dan keunikan kirab keagamaan tersebut.
Tak sedikit pula para turis asing menonton dan sebagian bahkan mengikuti jalannya kirab sampai akhir.
Setelah menempuh rute sekitar 3 kilometer, rombongan kirab kemudian tiba di kawasan Candi Borobudur. Di pelataran candi, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh para bhikku. Selanjutnya Api Dharma dari Mrapen dan Air Berkah dari Jumprit kemudian disakralkan di altar.
Dirjen Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama yang ikut dalam prosesi ini menilai Kirab Waisak sejatinya memiliki makna mendalam.
Menurutnya, kirab tak sebatas berkaitan dengan ritual keagamaan Buddha semata namun juga mengandung dimensi sosial yang luas.
"Kirab ini bisa diartikan sebagai potret perjalanan spiritual manusia yakni perjuangan dan komitmen diri untuk keluar dari penderitaan maupun perilaku-perilaku kurang baik menuju kebahagiaan yang sejati," kata Supriyadi.
"Namun lebih dari itu, umat juga diharapkan bisa memaknai ini bukan sekadar kirab biasa, tapi bagaimana sambil berjalan mereka menebarkan kebajikan-kebajikan kepada sesama," tambahnya.
Dalam pandangan Supriyadi, memperbanyak kebajikan, mengembangkan rasa empati maupun simpati kepada sesama manusia adalah kunci terciptanya kehidupan yang damai dan harmonis.
Melalui cara ini pula, dirinya optimistis berbagai ketegangan, peperangan dan konflik di antara sesama manusia, kelompok atau negara bisa dicegah dan diselesaikan.
"Ini sesuai dengan pesan dari tema Waisak 2025 yakni 'Tingkatkan Pengendalian Diri dan Kebijaksanaan, Wujudkan Perdamaian Dunia'. Artinya bahwa komitmen mewujudkan kedamaian harus terpatri di tiap umat. Mereka harus bisa memperkuat rasa empati dengan mengikis sifat loba, serakah, tamak, iri dan lainnya," pungkasnya. ***