MEDIA24.ID - Bagi seorang muslimah, sholat tahajud memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi. Kenikmatan yang dirasakan dalam beribadah di sepertiga malam terakhir memberikan ketenangan batin dan kemudahan dalam menghadapi kesulitan hidup.
Hal ini dialami oleh seorang istri yang merasakan bahwa setiap kesulitan yang dihadapinya bisa terselesaikan dengan baik setelah memohon petunjuk dan pertolongan dari Allah SWT melalui sholat tahajud.
Ia merasa malu jika tidak melaksanakan sholat malam ini, seolah-olah tidak berterima kasih atas nikmat yang telah diberikan oleh-Nya.
Namun, praktik sholat tahajud yang dijalankan istri ini mendapatkan teguran dari orang lain. Penegur tersebut menyatakan bahwa sholat tahajud tidak seharusnya dilakukan terus-menerus hingga tidak tidur sampai subuh, apalagi mengabaikan keinginan suami untuk bersama.
Baca Juga: Prosesi di Mina Usai, PPIH Minta Jemaah Pulihkan Fisik Sebelum Thawaf Ifadhah, Sa'i, dan Wada
Teguran ini mengarah pada kondisi di mana suaminya sering marah-marah karena merasa diabaikan.
Menurut ajaran Islam, sholat tahajud merupakan ibadah yang sangat dianjurkan namun tidak diwajibkan. Surat Al-Muzzammil ayat 20 memberikan penjelasan tentang keringanan dalam melaksanakan sholat tahajud dan alternatif ibadah lain yang bisa dilakukan:
"Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang.
Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an..." (QS Al-Muzzammil: 20).
Dari ayat ini, jelas bahwa Allah SWT memberikan fleksibilitas dalam menjalankan ibadah malam dan memperbolehkan umat-Nya untuk menyesuaikan dengan kondisi kesehatan dan tanggung jawab lainnya.
Baca Juga: Ini 30 Prodi Paling Susah Masuk di Jalur SNBT UGM Yogyakarta, Cek untuk Persiapan Jalur Mandiri
Dalam kehidupan rumah tangga, Islam mendambakan keharmonisan antara suami dan istri. Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa hubungan suami istri juga merupakan ibadah, dan keduanya mendapat pahala dari Allah SWT. Kewajiban suami istri untuk saling memenuhi kebutuhan satu sama lain tidak boleh diabaikan.
Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya "Kaifa Nafham Al Islam?" menulis, “Seandainya ada seorang yang sepanjang malam memuji Allah, kemudian di pagi harinya ketika ia membuka usahanya ia merasa lesu dan malas yang mengakibatkan ia mengabaikan usahanya, atau memasarkan dagangannya atau membersihkan (kios)nya guna meningkatkan penghasilannya, maka sungguh ia telah berdosa kepada Allah.”
Oleh karena itu, seorang istri yang menjalankan sholat tahajud perlu menyeimbangkan antara ibadah malamnya dan kewajibannya sebagai seorang istri. Menjalankan sholat tahajud dengan penuh keikhlasan tentu sangat baik, namun tidak boleh sampai mengabaikan hak suami untuk mendapatkan perhatian dan kebersamaan.
Artikel Terkait
Puncak Haji, Jemaaf Nafar Awal Hari Ini Tinggalkan Mina Sebelum Matahari Terbenam
Ini 30 Prodi Paling Susah Masuk di Jalur SNBT UGM Yogyakarta, Cek untuk Persiapan Jalur Mandiri
Prosesi di Mina Usai, PPIH Minta Jemaah Pulihkan Fisik Sebelum Thawaf Ifadhah, Sa'i, dan Wada