Kanker Serviks, Pentingnya Deteksi Dini dan Peran Vaksinasi dalam Mencegah Ancaman Mematikan

Photo Author
Rahmah Zakiya, Media 24
- Kamis, 28 November 2024 | 21:57 WIB
Cegah Kanker, Kemenkes Dorong Masyarakat Rajin Periksa Kesehatan (Dok. UGM )
Cegah Kanker, Kemenkes Dorong Masyarakat Rajin Periksa Kesehatan (Dok. UGM )

MEDIA24.IDKanker serviks menjadi salah satu kanker paling umum menyerang perempuan.

Namun, kabar baiknya, penyakit ini memiliki peluang besar untuk disembuhkan jika terdeteksi lebih awal.

Hal ini ditegaskan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, dalam diskusi media di Jakarta, Kamis (28/11/2024). 

Menurut Nadia, sebagian besar kasus kanker serviks di Indonesia ditemukan dalam stadium lanjut.

Baca Juga: Pilkada DKI Jakarta 2024 Diprediksi Dua Putaran, Paslon RIDO Siap Evaluasi Strategi

Kondisi ini menyebabkan tingkat kematian mencapai 70 persen dan biaya pengobatan yang jauh lebih mahal.

"Makanya, target WHO adalah eliminasi kanker leher rahim dengan kombinasi strategi 90-70-90. Jika berhasil, kasus ini bisa ditekan secara signifikan," ujar Nadia.

Strategi 90-70-90 dari WHO mencakup:

  1. 90 persen anak perempuan di bawah usia 15 tahun mendapatkan vaksin HPV.
  2. 70 persen perempuan usia 35 dan 45 tahun menjalani skrining dengan tes performa tinggi.
  3. 90 persen perempuan dengan lesi prakanker menerima pengobatan sesuai standar.

Untuk merespons target global ini, Kementerian Kesehatan telah menyusun Rencana Aksi Nasional (RAN) Eliminasi Kanker Leher Rahim.

Baca Juga: Dede Yusuf Ungkap Kepergian Sang Ibunda

Strategi utamanya meliputi peningkatan cakupan vaksinasi HPV, akses skrining, dan pengobatan tepat waktu bagi perempuan dengan lesi prakanker.

"Misalnya dengan tes HPV DNA, kita bisa mendeteksi kerusakan rahim sejak dini. Jika ditemukan lebih awal, kerusakan yang baru 10 persen dapat segera diatasi, sehingga tidak berkembang ke stadium lanjut," jelas Nadia.

Pemerintah menargetkan 70 persen perempuan usia 30–69 tahun diskrining menggunakan tes HPV DNA. Dalam fase lanjutan, target ini akan meningkat menjadi 75 persen setiap 10 tahun. 

Meski upaya telah berjalan, Nadia menyoroti tantangan budaya yang menghambat perempuan menjalani skrining kanker serviks. Banyak perempuan merasa malu atau harus meminta izin suami untuk melakukan pemeriksaan.

Baca Juga: Tinjau Warga Terdampak Banjir di Kampung Melayu dan Cawang, Wapres Beri Paket Sembako

Halaman:

Editor: Rahmah Zakiya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X