“Setiap hati kita, perbuatan kita, perkataan kita—semuanya dilihat, dicatat, dan akan dibalas oleh Allah,” ujarnya tegas di hadapan ratusan petugas haji.
Itulah prinsip yang selalu ia pegang, bahkan saat kini menyandang jabatan tinggi sebagai Wamenag. Ia mengaku kerap dianggap terlalu vokal, terlalu berani. Tapi, menurutnya, itu bukan soal keberanian.
“Saya hanya tak bisa menyembunyikan kebenaran. Kebenaran harus ditegakkan,” katanya mantap.
Menjelang akhir sambutannya, suasana kembali syahdu. Romo Syafi’i menatap satu per satu para petugas PPIH yang hadir. Ia tahu, tugas mereka berat. Tapi juga mulia.
“Melayani tamu Allah yang merindu. Lalu kita bantu mereka melepas kerinduan itu untuk bertemu dengan-Nya. Tak semua orang mendapat kesempatan ini,” ucapnya pelan, namun penuh makna.
Lalu ia menambahkan, “Semoga dengan keikhlasan yang Bapak-Ibu tanamkan, Allah akan membalasnya dengan apa yang selama ini menjadi impian kita," sambung Romo Syafi'i.
Sore itu, banyak mata yang ikut basah. Bukan hanya karena kisah Romo Syafi’i yang menyentuh, tapi karena mereka tahu, jalan menuju ikhlas adalah jalan yang tak selalu mudah. Tapi justru di situlah letak kemuliaannya. ***