Jangkauan Misil Nuklir Korea Utara Makin Jauh, Indonesia dan ASEAN Wajib Waspada

Photo Author
Tiffany Sukotjo, Media 24
- Kamis, 27 Februari 2025 | 10:39 WIB
Laksamana Madya (Laksdya) TNI TSNB Hutabarat M.M.S  ((Foto DOC) )
Laksamana Madya (Laksdya) TNI TSNB Hutabarat M.M.S ((Foto DOC) )

MEDIA24.ID, JAKARTA – Negara-negara di dunia baik yang mempunyai persenjataan nuklir maupun tidak kini lebih mengedepankan pendepatan Confidence and Security Building Measures (CSBMs) dalam berinteraksi. 

Pendekatan ini mengurangi kemungkinan terjadinya konflik, meningkatkan rasa saling percaya, dan meningkatkan transparansi dalam urusan militer dan politik, ujar pengajar di Universitas Pertahanan (Unhan) Laksdya TNI Dr. TSNB ‘Cokky’ Hutabarat dalam sebuah diskusi online  “Ancaman Nuklir di Semenanjung Korea bagi Perdamaian Dunia”  yang diselenggarakan Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) di Jakarta, pada Rabu (26/2). 

Cokky, yang pernah menjadi Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (2023-2025) menekankan tujuan utama pendeketan ini adalah mencegah kesalahpahaman atau salah perhitungan yang dapat menyebabkan konflik, terutama di wilayah yang mengalami ketegangan.

Baca Juga: Laksdya Cokky Hutabarat Tuntaskan Tugas jadi Sesjen Wantannas, Kini Akademisi Unhan 

Menurut dia, sepanjang para pemimpin negara-negara tetap “waras” perang nuklir nyaris tidak mungkin terjadi. 

Namun Indonesia harus tetap waspada, karena jangkauan misil Korea Utara sudah semakin jauh, tidak hanya di Kawasan Asia Timur, melainkan hingga ke Asia Tenggara bahkan ke Amerika.

“Penting untuk memajukan peran ASEAN dalam hal ini karena kawasan ASEAN sekarang relatif kawasan yang paling aman dibandingkan kawasan-kawasan  lain di dunia,” ujar Laksdya Cokky Hutabarat.

Diskusi itu juga dihadiri Anggota Komisi I DPR Sukamta dan Juru Bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan Ujang Komarudin.

Baca Juga: Ribut Isu Tapera, Perumahan Rakyat Gratis di Korea Utara Jadi Sorotan

Tiga pembicara itu sama-sama menekankan bahwa Indonesia bersama ASEAN harus meningkatkan peran diplomasinya dalam meredakan ketegangan akibat persaingan senjata nuklir di wilayah tersebut karena dapat membahayakan perdamaian dunia.

Sukamta menyatakan bahwa ASEAN sebagai kawasan paling stabil dapat menjadi arena bagi Indonesia sebagai negara besar untuk meredakan ketegangan. 

Meski perang nuklir itu hampir tidak mungkin terjadi, namun keduanya khawatir terhadap karakteristik pemimpin Korea Utara dan pemimpin negara-negara pemilik senjata nuklir yang dapat mengubah situasi menjadi lebih buruk. 

“Kombinasi antara karakter diktator Kim yag sulit ditebak dan kemampuan jangkauan misilnya ini membuat pemimpin dunia jadi ketar ketir (khawatir),” ucapnya.

Baca Juga: Tema Emansipasi Perempuan Sering jadi Kontroversi pada Film Korea, Mengapa? 

Halaman:

Editor: Tiffany Sukotjo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X