MEDIA24.ID, JAKARTA - Kandidat presiden Iran dari kubu reformis, Masoud Pezeshkian memenangi putaran kedua pemilu presiden Iran. Ia melawan capres ultrakonservatif, Saeed Jalili, dalam pemilu yang berlangsung pada Jumat, 5 Juli 2024 waktu Iran.
Pemungutan suara ditutup, Jumat tengah malam setempat, setelah diperpanjang tiga kali sesuai tradisi Iran dengan total perpanjangan waktu sekitar enam jam.
“Saya mendengar antusiasme masyarakat lebih besar dari sebelumnya. Insya Allah, masyarakat memilih dan mendapatkan kandidat terbaik,” kata Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei kepada TV pemerintah setelah memberikan suara di kediamannya.
Baca Juga: Pemimpin Tertinggi Iran, Apa Wewenang dan Perbedaannya dengan Presiden?
Seperti dilansir AFP dan Press TV, Sabtu, 6 Juli 2024, juru bicara kantor pusat pemilu Iran, yang berada di bawah Kementerian Dalam Negeri Iran, Mohsen Eslami dalam pernyataannya menyebut penghitungan suara telah selesai dilakukan pada Sabtu, setelah pemungutan suara digelar sehari sebelumnya.
Hasil penghitungan itu, sebut Eslami, menunjukkan bahwa dari total 30.530.157 suara yang telah dihitung, Pezeshkian memperoleh lebih dari 16 juta suara (tepatnya 16.384.403 suara), sedangkan Jalili meraup lebih dari 13 juta suara (13.538.179 suara).
Selisih suara di antara kedua capres pada akhirnya mencapai lebih dari dua juta suara.
Baca Juga: Presiden Iran Ebrahim Raisi dan Rombongan Dilaporkan Meninggal dalam Kecelakaan Helikopter
Dengan hasil tersebut, maka menurut Eslami dalam pernyataannya, Pezeshkian telah menang atas Jalili dalam pilpres putaran kedua. Dia akan menjabat sebagai Presiden baru Iran untuk menggantikan mendiang Presiden Ebrahim Raisi.
Kementerian Dalam Negeri mengatakan, berdasarkan laporan-laporan awal, tingkat partisipasi pemilih pada putaran kedua ini sekitar 50 persen atau lebih tinggi daripada putaran pertama.
Pada pemungutan suara pertama yang berlangsung, 28 Juni 2024, partisipasi pemilih terpantau sangat rendah. Tingkat partisipasi rakyat Iran hanya sekitar 39,9 persen dari total 61,45 juta pemilih suara.
Angka partisipasi itu merupakan yang terendah dibandingkan dengan tingkat partisipasi pemilu-pemilu sebelumnya dalam sejarah Republik Islam Iran.
Dengan tingkat partisipasi tersebut, artinya pada putaran pertama lebih dari 60 persen warga Iran yang memenuhi syarat untuk memilih tidak menggunakan suara mereka.
Pemilu presiden digelar lebih cepat daripada jadwal semula, yakni tahun 2025, untuk mencari pengganti Ebrahim Raisi yang meninggal dalam kecelakaan helikopter pada Mei 2024.