Memanas! Israel Paksa Tim Medis Indonesia Keluar dari RS Kamal Adwan di Gaza Utara

Photo Author
Andika Maulana, Media 24
- Sabtu, 7 Desember 2024 | 21:40 WIB
Dokter-dokter Indonesia untuk membantu korban serangan Israel di Jalur Gaza mendapat hadangan. Mereka diusir dari Rumah Sakit Kamal Adwan di utara Gaza yang baru berhasil mereka masuki. (Foto/Tangkapan layar)
Dokter-dokter Indonesia untuk membantu korban serangan Israel di Jalur Gaza mendapat hadangan. Mereka diusir dari Rumah Sakit Kamal Adwan di utara Gaza yang baru berhasil mereka masuki. (Foto/Tangkapan layar)

MEDIA24.ID, GAZA - Eskalasi kekerasan di Jalur Gaza, yang sering kali mengakibatkan korban sipil, termasuk anak-anak dan perempuan, serta kerusakan infrastruktur terus meningkat.

Pada Jumat pagi (6/12), sebanyak 30 warga Palestina tewas dalam pengeboman Israel terhadap beberapa rumah di sekitar RS Kamal Adwan, di Jalur Gaza utara.

Pusat Informasi Palestina melaporkan sumber-sumber lokal mengatakan kepada koresponden situs berita tersebut bahwa pasukan pendudukan Israel menargetkan sekitar RS Kamal Adwan, yang berdampak pada rumah-rumah di dekatnya.

Baca Juga: 10.000 Tentara Israel Tewas Selama Perang Melawan Pasukan Hamas di Jalur Gaza

Sumber-sumber tersebut menambahkan pasukan pendudukan mengirim dua warga yang ditahan, menggunakan mereka sebagai tameng manusia, ke rumah sakit untuk memberi tahu staf medis serta pasien agar berkumpul di halaman rumah sakit sebelum meminta mereka pergi setelah menahan beberapa dari mereka. Warga sipil tersebut terpaksa mengungsi ke Kota Gaza.

Menurut sumber-sumber tersebut, pasukan pendudukan mundur dari daerah tersebut pada pagi hari, meninggalkan pembantaian yang merenggut nyawa 30 warga Palestina di rumah-rumah yang berdekatan dengan rumah sakit.

Direktur RS Kamal Adwan, dr Hussam Abu Safiya, mengatakan situasi di dalam dan sekitar rumah sakit sangat memprihatinkan, karena banyak korban meninggal dan luka-luka, termasuk empat orang tenaga medis yang meninggal dunia.

Baca Juga: Serangan Rudal Iran ke Israel Sebagai Tanggapan atas Pembunuhan Pemimpin Hizbullah

Dia menambahkan tidak ada dokter bedah yang tersisa di rumah sakit tersebut.

Abu Safiya membenarkan dalam keterangan pers bahwa satu-satunya tim medis yang melakukan operasi adalah delegasi medis Indonesia, dan mereka terpaksa pergi ke pos pemeriksaan.

Dia menjelaskan, persediaan medis hampir habis, dan ada ratusan korban. Dia mencontohkan delegasi medis Indonesia adalah yang pertama dipaksa bergerak menuju pos pemeriksaan.

Abu Safiya menjelaskan ketika mereka kembali ke rumah sakit pada pagi hari setelah dipaksa mengungsi, mereka terkejut melihat ratusan mayat dan luka-luka di jalan-jalan sekitar rumah sakit.

Dia menambahkan generator oksigen menjadi sasaran pada malam hari, dan sekarang hanya ada dua dokter bedah yang tidak berpengalaman yang tersedia untuk mengoperasi pasien.

“Mereka harus memulai operasi meskipun mereka kurang berpengalaman, karena ada 20 orang yang terluka yang membutuhkan perawatan darurat,” ungkap dia. ***

Editor: Moh Purwadi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X