Rancang Corporate University, MOOC Bersiap Sasar Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri

Photo Author
Moh Purwadi, Media 24
- Jumat, 21 Juni 2024 | 21:00 WIB
Kepala Badan Litbang dan Diklat Suyitno dalam kegiatan Coaching MOOC pada Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri, di Jakarta. (Foto/Dok/Kemenag)
Kepala Badan Litbang dan Diklat Suyitno dalam kegiatan Coaching MOOC pada Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri, di Jakarta. (Foto/Dok/Kemenag)

MEDIA24.ID, JAKARTA - Kepala Badan Litbang dan Diklat Suyitno mengatakan bahwa Balitbang Diklat pada saat ini sedang merancang Corporate University atau kampus perusahaan.

Adapun dalam rancangan tersebut Kaban menyebutkan bahwa Massive Open Online Course (MOOC) merupakan salah satu rukun penting yang harus ada.

"Salah satu alasan mengapa beberapa waktu terakhir ini UKT menjadi mahal adalah karena kita masih berpikir secara konvensional," ujar Suyitno dalam keterangan pers, Jumat (21/6/2024).

Baca Juga: Beasiswa LPDP, Ada Banyak Pilihannya. Cek Disini Selengkapnya

"Cost pendidikan akan mahal karena kita akan berbicara tentang infrastruktur yang berbasis pada perawatan atau pembangunan, sehingga pelatihan berbasis MOOC merupakan solusi yang tepat," tambahnya.

Menurutnya, MOOC yang digunakan dalam Corporate University (CorpU) nantinya merupakan proses pembelajaran atau pelatihan yang dilakukan secara full e-learning.

"Oleh karena itu, dalam pelatihan MOOC dikatakan digitalisasi materi, semua digital bahkan kita sudah memakai synchronous- asynchronous," ucapnya dalam kegiatan Coaching Massive Open Online Course (MOOC) pada Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri, di Mercure Hotel, Jakarta.

Baca Juga: Selamat Ulang Tahun ke-63, Presiden Joko Widodo

Pelaksanaan pelatihan, lanjut Suyitno, yang akan digunakan dalam CorpU tidak lagi berdasarkan pada kebutuhan kebutuhan perorangan tetapi berdasarkan pada kebutuhan perusahaan yang dalam hal ini adalah Kementerian Agama.

Adapun salah satu dampak yang ditimbulkan dari hal tersebut adalah beberapa mata kuliah atau mata diklat yang ada saat ini menjadi tidak relevan lagi.

"Banyaknya mata diklat atau kuliah yang tidak relevan tersebut akan memberikan dampak lainnya khususnya kepada widyaiswara atau dosen," ujar Kaban Suyitno.

"Nantinya, mereka yang kehilangan mata kuliah atau mata diklatnya suka tidak suka harus mengubah mata diklat atau beradaptasi dengan mata diklat yang baru," lanjutnya.

Melalui coaching MOOC yang dilakukan oleh Pusdiklat Teknis, Suyitno berharap mampu melahirkan mindset berani untuk berubah.

"Kalau kita sudah berpikir how to change maka hal yang tidak kalah pentingnya adalah menyiapkan infrastruktur yang ada di kampus kita masing-masing dan yang lebih penting lagi setelah selesai nanti adalah langsung beraksi," pungkasnya. ***

Editor: Moh Purwadi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X