nasional

Minta Kanwil Kawal CKG, Menag Tegaskan Pentingnya Cek Kesehatan Gratis bagi Seluruh Lembaga Pendidikan Agama

Senin, 4 Agustus 2025 | 23:07 WIB
Menteri Agama Nasaruddin Umar meninjau langsung pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Pondok Pesantren Asshidiqiyah, Jakarta Barat, Senin (4/8/2025). (Foto/Dok/Media24)

MEDIA24.ID, JAKARTA - Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa seluruh lembaga pendidikan agama di Indonesia, termasuk pondok pesantren dan madrasah, wajib mengikuti pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dimulai hari ini, Senin (4/8/2025).

Program ini merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo Subianto, dengan Kementerian Agama (Kemenag) sebagai salah satu institusi pelaksana utama, khususnya di satuan pendidikan berbasis keagamaan.

“Tidak boleh ada satu pun madrasah, pesantren, atau lembaga pendidikan agama yang terlewat dari program ini,” tegas Menag Nasaruddin Umar saat meninjau pelaksanaan CKG di Pondok Pesantren Asshidiqiyah, Jakarta Barat.

Baca Juga: Kementerian Agama Dukung Cek Kesehatan Gratis bagi 12,5 Juta Siswa Lintas Agama

Ia meminta Kepala Kanwil Kemenag Provinsi dan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia untuk memastikan program ini berjalan lancar.

“Kalau nanti saya tahu ada sekolah yang tidak mendapatkan pemeriksaan, saya akan panggil para Kepala Kanwil dan Kakankemenag-nya,” kata Menag Nasaruddin Umar saat meninjau pelaksanaan CKG di Pondok Pesantren Asshidiqiyah, Jakarta Barat.

Lebih lanjut, Menag menyebut, komitmen dan pengawasan di tingkat daerah akan menjadi kunci keberhasilan program ini. "Siapa pun lembaga pendidikan agama dan keagamaan yang tidak memberikan perhatian penuh, nanti kami akan berikan semacam perhatian khusus," ujar Nasaruddin.

Baca Juga: Kemenag Gelar Silatnas FKUB 2025, Ratusan Tokoh Agama Bahas Upaya Merawat Kerukunan Umat

Kemenag mencatat sebanyak 12.548.995 peserta didik berada di bawah binaannya dan berpotensi menjadi penerima manfaat program ini. Jumlah tersebut terdiri atas: 9.179.847 siswa Madrasah; 3.339.536 santri pondok pesantren; 18.090 siswa pendidikan Kristen; 7.032 siswa pendidikan Katolik; 3.421 siswa pendidikan Hindu (Widyalaya); dan 1.069 siswa pendidikan Buddha (Dhammasekha Formal).

Program CKG ini tak hanya digelar di madrasah dan pesantren, tapi juga di lembaga pendidikan keagamaan Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Nasaruddin menilai pendekatan inklusif ini selaras dengan nilai-nilai agama yang menempatkan kesehatan sebagai bagian dari ibadah.

“Tidak mungkin kita bisa menjadi hamba yang taat kalau sakit-sakitan. Dan tidak mungkin kita menjadi khalifah yang sukses kalau penyakitan,” tegasnya.

Sementara itu, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Murti Utami mengungkapkan, CKG pada bidang Pendidikan yang diluncurkan serentak hari ini menyasar 53 juta peserta didik, termasuk 12,5 juta yang berada di bawah binaan Kemenag. Ia menjelaskan, bahwa jenis pemeriksaan dalam program ini disesuaikan dengan usia dan jenjang pendidikan siswa.

Di tingkat Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI), siswa kelas 1 hingga 6 diperiksa status gizinya, kondisi gigi, mata, telinga, hingga tekanan darah dan potensi penyakit seperti tuberkulosis dan diabetes melitus.

Untuk siswa kelas tinggi (kelas 4–6), pemeriksaan semakin luas: mulai dari perilaku merokok, aktivitas fisik, hingga edukasi kesehatan reproduksi. Sementara siswa kelas 1 akan dicocokkan riwayat imunisasinya.

Halaman:

Tags

Terkini

HUT ke-74 Kopassus 2026: Garda Senyap untuk Negeri

Kamis, 16 April 2026 | 15:40 WIB