LOMBOK,MEDIA24.ID- "Pramoedya telah mengajarkan kita tentang pentingnya mempertahankan martabat manusia dan melawan segala bentuk penindasan".
Hal tersebut disampaikan Ketua Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat NTB Syukrina Rahmawati dalam webinar bertajuk “Seratus Tahun Pramoedya Ananta Toer: Dari Sastra ke Sejarah, dari Kemanusiaan ke Perlawanan”.
Kegiatan pada Kamis, 6 Maret 2025 tersebut digelar untuk memperingati seratus tahun kelahiran sastrawan legendaris Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Acara dihadiri akademisi, sastrawan, serta pecinta sastra dari berbagai daerah.
Acara tersebut merupakan kerja bareng antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bidang Pusat Manuskrip, Literatur, Tradisi Lisan, HISKI Komisariat NTB, dan Abdurrahaman Wahid Center Peace and Humanity (AWCPH) UI.
Menurut Syukrina, sangat penting untuk melestarikan warisan pemikiran dan karya Pramoedya Ananta Toer sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia. "Webinar ini adalah bentuk penghormatan kami atas dedikasinya yang luar biasa," ujarnya.
Sumber penting memahami sejarah
Kepala Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan BRIN, Sastri Sunarti Sweeney menekankan pentingnya melestarikan dan mengkaji karya-karya Pramoedya sebagai bagian dari warisan budaya bangsa.
"Pramoedya telah meninggalkan jejak yang mendalam dalam sejarah sastra Indonesia. Karya-karyanya, seperti Tetralogi Buru, tidak hanya memiliki nilai sastra yang tinggi, tetapi juga menjadi sumber penting untuk memahami sejarah dan perjuangan bangsa," jelasnya.
Webinar terbagi menjadi dua sesi utama, masing-masing menawarkan perspektif unik tentang kehidupan, karya, dan pemikiran Pramoedya Ananta Toer.
Sesi pertama menghadirkan pertunjukan seni yang menginterpretasikan karya-karya Pramoedya. Short Performance Lecture oleh Rosida E. Irsyad, Holifah Wira, dan Ramdaninov berhasil memukau peserta dengan ekspresi kreatif yang menggabungkan sastra dan seni pertunjukan.
Selanjutnya, Taty Haryati dan Heru Joni Putra membacakan puisi-puisi yang terinspirasi dari karya Pramoedya, membawa atmosfer yang mendalam dan penuh makna. Sedangkan sesi kedua mengulas pemikiran Pramoedya Ananta Toer dari berbagai sudut pandang.
Hadir juga Hilmar Farid, Mantan Direktur Jenderal Kebudayaan yang juga sejarawan Indonesia membawakan materi bertajuk “Pramoedya dan Kekuatan Imajinasi”. Hilmar menyoroti bagaimana imajinasi menjadi alat ampuh dalam menyampaikan kritik sosial dan sejarah.
Beberapa panelis yang hadir seperti Sumit Mandal, akademisi terkemuka, yang mengulas hubungan erat antara karya sastra Pramoedya dengan narasi sejarah Indonesia.
Lalu ada Koh Young Hun, peneliti sastra Indonesia dari Korea Selatan, yang membahas “Humanisme: Benang Merah Pemikiran Pramoedya”. Dalam paparannya dia menegaskan bahwa nilai-nilai kemanusiaan menjadi inti dari seluruh karya Pramoedya.
Ada juga Max Lane, penerjemah dan peneliti sastra Indonesia, yang memberikan perspektif politik melalui materi “Perspektif Politik Pramoedya Ananta Toer: Sukarnois Marxis”, yang mengkaji pengaruh ideologi Sukarno dan Marxisme dalam pemikiran Pramoedya.
Momentum untuk menginspirasi generasi muda
Webinar ini tidak hanya menjadi ajang refleksi atas kontribusi Pramoedya Ananta Toer dalam dunia sastra dan sejarah, tetapi juga menjadi momentum untuk menginspirasi generasi muda agar terus mengkaji dan mengapresiasi warisan intelektualnya.