MEDIA24.ID, JAKARTA - Kementerian Agama (Kemenag) meluncurkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai wajah baru pendidikan Islam yang lebih humanis, inklusif, dan spiritual.
Peluncuran yang digelar di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Kamis (24/7/2025) malam ini bukan sekadar seremoni, melainkan penanda dimulainya transformasi mendalam dalam ekosistem pendidikan nasional.
Mengusung semangat "Mewujudkan Cinta dalam Ruh Pendidikan", KBC hadir sebagai respons konkret atas berbagai krisis kemanusiaan, intoleransi, dan degradasi ekologi yang kian mengkhawatirkan.
Baca Juga: Kabar Baik! PPG Angkatan II untuk Guru Mapel Pendidikan Agama Digelar Awal September 2025
KBC tidak hanya dirancang sebagai perangkat teknis ajar, tetapi sebagai filosofi hidup yang menjadikan cinta sebagai poros utama dalam pembentukan karakter peserta didik.
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, dalam pidato peluncurannya, menegaskan bahwa kurikulum ini lahir dari kegelisahan atas dominasi pendidikan yang hanya berorientasi pada aspek kognitif semata. Menurutnya, cinta adalah bahasa universal yang bisa menjembatani perbedaan dan menyatukan umat manusia dalam harmoni.
“Jangan sampai kita mengajarkan agama, tapi tanpa sadar menanamkan benih kebencian kepada yang berbeda. Kurikulum ini adalah upaya menghadirkan titik-titik kesadaran universal dan membangun peradaban dengan cinta sebagai fondasi,” ujar Menag.
Baca Juga: Madrasah Swasta dan Negeri di Jakarta Rencananya Bebaskan Biaya Sekolah
Ia menambahkan bahwa spiritualitas harus kembali menjadi roh pendidikan, termasuk dalam konteks ekoteologi, yaitu kesadaran bahwa manusia bukan penguasa atas alam, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang harus dijaga bersama.
“Teologi ini harus melahirkan logos yang berbuah menjadi habit. Jika itu terwujud, kita akan membentuk generasi yang kuat dalam moral, lembut dalam sikap, dan kokoh dalam kebersamaan,” tambahnya.
Kurikulum Berbasis Cinta dibangun atas lima nilai utama yang disebut Panca Cinta, yakni: Pertama, Cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa; Kedua, Cinta kepada Diri dan Sesama; Ketiga, Cinta kepada Ilmu Pengetahuan; Keempat, Cinta kepada Lingkungan; dan Kelima, Cinta kepada Bangsa dan Negeri.
Kelima nilai ini menjadi kerangka dasar dalam membentuk perilaku dan visi hidup peserta didik, yang diintegrasikan tidak hanya dalam pelajaran agama, tetapi lintas mata pelajaran dan jenjang pendidikan.
“Kita ingin madrasah dan sekolah menjadi ruang suci yang tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menghangatkan jiwa,” ungkap Dirjen Pendidikan Islam, Prof. Amien Suyitno.
Dalam laporannya, Suyitno menyampaikan bahwa KBC dikembangkan secara kolaboratif oleh Direktorat KSKK Madrasah sejak akhir 2024, melalui uji coba di 12 madrasah di berbagai provinsi dan lima kali uji publik yang melibatkan pakar nasional seperti Prof. Yudi Latif, Nyai Alissa Wahid, Haidar Bagir, dan Prof. Fasli Jalal.