MEDIA24.ID, Jakarta - Pasar modal Indonesia dinilai tidak menarik. Hal itu karena tidak adanya instrumen derivatif ditambah tingkat real interest di Indonesia yang tertinggi di ASEAN. Agar sektor keuangan Indonesia lebih kuat maka perlu menambah instrumen keuangan.
“Beberapa yang kami usulkan seperti project finance bonds, Real Estate Investment Trusts (REITs), municipal bonds, lalu ditambah lagi derivatif. Bank Indonesia bisa meluncurkan perdagangan derivative dan tingkat bunga derivative, ” kata Senior Advisor Prospera Kahlil Rowter dalam peluncuran riset dan rekomendasi kebijakan IBC, “Pembangunan Sektor Keuangan untuk Pertumbuhan yang Kuat dan Merata” di Hotel Shangri-la Jakarta.
Kahlil menambahkan, sektor keuangan Indonesia juga sangat kecil karena tingginya sektor informal, yang mencapai lebih dari setengah perekonomian.
Sedangkan Deputi Komisioner Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Iwan Pasila menjelaskan, untuk memperkuat sektor keuangan, pemerintah perlu mendorong pemanfaatan dana pensiun, asuransi, dan penjaminan.
“Sektor perasuransian, penjaminan, dan dana pensiun (PPDP) memiliki peranan penting dan strategis pada tatanan perekonomian nasional, khususnya dalam hal mengurang protection gap, ujar Iwan.
Asuransi dan Dana Pensiun untuk Pembiayaan Jangka Panjang
Asuransi dan penjaminan merupakan mekanisme perlindungan terhadap risiko. Pada saat yang sama berperan sebagai investor institusional yang dapat mendorong perekonomian nasional melalui penyediaan sumber pembiayaan jangka panjang.
Lalu dana pensiun, bisa menjadi solusi finansial untuk memutus rantai sandwich generation. Namun di sisi lain bisa mendorong akses pembiayaan bagi UMKM.
Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal OJK Eddy Manindo bilang sumber pendanaan dari pemerintah dan BUMN sangat terbatas untuk memenuhi kebutuhan investasi dan mendorong pertumbuhan tahun 2025-2029.
Oleh karena itu sumber pembiayaan investasi dari sektor swasta dan masyarakat sangat diperlukan. Sumber pembiayaan swasta tersebut antara lain meliputi kredit perbankan, penerbitan saham, dan obligasi.
Eddy mengakui produk keuangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini masih terbatas sehingga perkembangan pasar sektor keuangan juga terhambat.
“Struktur pendanaan di Indonesia saat ini masih bertumpu signifikan kepada industri perbankan. Pasar Modal dapat mengambil peran untuk menyediakan alternatif pendanaan dan sebagai sarana untuk menarik investor asing sebagai pemodal potensial bagi sejumlah proyek strategis nasional, ” ujarnya.
Kapitalisasi Pasar Ditargetkan Mencapai Rp15.000 triliun atau Sekitar 70% dari PDB
Menurut Eddy, OJK telah menyusun Roadmap Pasar Modal Indonesia 2023-2027. Dalam peta jalan ini, kapitalisasi pasar ditargetkan mencapai Rp 15.000 triliun atau sekitar 70% dari PDB. Jumlah itu setara Rp 25 triliun transaksi harian. Jumlah investor ditargetkan mencapai lebih dari 20 juta.
Penasihat Pengembangan Bisnis Bursa Efek Indonesia Poltak Hotradero mengatakan perbandingan M2 ke GDP Indonesia hanya 40% dan termasuk yang paling rendah di ASEAN.