Memuliakan Para Ulama
Ibnu Abbas sangat mencintai ilmu, hingga membuatnya mencarinya dengan berbagai cara. Oleh karena itu, hampir seluruh waktunya habis digunakan untuk menuntut ilmu dengan kesungguhan hati.
Awalnya, ia belajar langsung dari sumber utama keilmuan saat itu yakni Rasulullah Saw. Namun, setelah Nabi Muhammad Saw, wafat, Ibnu Abbas tetap belajar dengan menghubungi ulama atau para sahabat untuk belajar dengan mereka.
Suatu ketika ia pernah berkata, “Apabila seseorang menyampaikan sebuah hadits kepadaku yang diperolehnya dari seorang sahabat Rasulullah Saw., maka kudatangi sahabat tersebut ke rumahnya waktu ia tengah tidur siang. Lalu, kubentangkan sorban dekat tangga rumahnya dan aku duduk di situ menunggu sampai ia bangun. Sementara itu, angin bertiup memenuhi tubuhku dengan debu dan tanah. Seandainya aku minta izin masuk kepadanya, tentu ia akan mengizinkanku. Tetapi, memang aku sengaja melakukan hal yang demikian supaya tidak mengganggu waktu tidurnya.”
Sahabat Rasulullah satu ini memang sangat memuliakan para ulama, kemudian ia melanjutkan ceritanya, “Ketika ia keluar dan melihatku dalam keadaan demikian, sang pemilik rumah berkata, ‘Wahai anak paman Rasulullah Saw., mengapa Anda sendiri yang datang ke sini? Mengapa tidak Anda suruh saja seseorang untuk memanggilku? Tentu aku akan datang memenuhi panggilan Anda.’ Lalu, aku menjawab, ‘Akulah yang harus mendatangi Anda. Ilmu itu harus didatangi, bukan ilmu yang mendatangi.’ Sesudah itu, kutanyakan kepadanya hadits yang kumaksud.” ujarnya.
Dalam menuntut ilmu, Ibnu Abbas memanglah terkenal selalu rendah hati dan tidak sombong.
Seorang Guru yang Hebat
Ketika ilmu yang dicarinya telah sempurna, Ibnu Abbas kemudian mengajarkannya kepada kaum muslimin yang ingin belajar. Akhirnya ia mengubah rumahnya menjadi jam’iah atau tempat belajar atau Universitas.
Dalam seminggu ia membagi jadwal belajar setiap harinya, misalnya sehari mengajar ilmu tafsir, besoknya ilmu fiqih, besoknya lagi ilmu perang atau sejarah peperangan zaman Rasulullah Saw.
Selain itu, Ibnu Abbas juga mengajarkan strategi perang, ilmu syi’ir dan ilmu sastra Arab. Semua orang yang belajar dalam majelis tersebut dengan hormat serta menundukkan diri padanya.
Sumber Rujukan Kaum Muslimin
Kepandaian dan kepiawaiannya dalam bidang ilmu, membuat Ibnu Abbas menjadi sosok yang seringkali diajak untuk bermusyawarah oleh khalifah Umar bin Khattab.
Ketika menghadapi suatu kerumitan, khalifah Umar selalu berunding bersama para ulama terkemuka tanpa terkecuali Ibnu Abbas.
Bahkan, Khalifah Umar akan memberikan tempat duduk paling spesial atau paling tinggi. Sedangkan, sang khalifah duduk lebih rendah sembari mengatakan, “Anda lebih berbobot daripada kami.” ujarnya.
Lantas, perlakukan Umar yang khusus membuat para ulama lainnya keberatan. Mereka beranggapan perlakuan tersebut terlalu berlebihan, apalagi saat itu usia Ibnu Abbas lebih mudah dari ulama lainnya.
Namun, Umar mengatakan, “Dia adalah pemuda, tapi berpikiran seperti orang tua. Ia lebih banyak belajar dan berhati tenang.”
Wafat dengan Mulia
Selama hidupnya, sahabat Nabi Muhammad Saw. ini telah membaktikan seluruh hidupnya untuk belajar dan mencapai keilmuan yang luar biasa.
Ibnu Abbas meninggal pada usia 71 tahun setelh mengisi hidupnya dengan keilmuan, paham, hikmah, dan takwa.
Artikel Terkait
Patungan Sapi atau Satu Kambing: Mana yang Lebih Utama untuk Qurban?
Keajaiban Surat Yasin: Kisah Penuh Hikmah dari Al-Quran
Manfaat dan Keuntungan yang Luar Biasa Dzikir Pagi dan Petang bagi Umat Muslim
Catat! Jenis Jenis Zina dan Balasan Jika Melakukannya
Zina yang Paling Besar Adalah Zina dengan Istri Tetangga