Ahmad Fauzi, Pimpinan Cabang BRI Bogor, menjelaskan bahwa KUR BRI dirancang untuk UMKM seperti Nurhayati. “Program ini bukan sekadar modal, tapi bagian dari komitmen BRI memberdayakan usaha lokal yang punya dampak sosial,” ujarnya.
Meski dodol dianggap camilan tradisional, Nurhayati tak kehabisan akal. Ia mengemas produknya dalam keranjang anyaman dengan harga Rp65.000 untuk menarik pasar menengah. “Ini jadi oleh-oleh khas Bogor yang estetik,” katanya.
Dia juga mempertahankan cita rasa autentik tanpa pengawet. “Resep nenek tidak diubah. Dodol harus diaduk 8 jam di tungku kayu agar teksturnya kenyal dan tidak gosong,” jelasnya.
Keberadaan dodol D’Tungku tidak hanya melestarikan kuliner tradisional, tetapi juga menyerap tenaga kerja lokal. Siti, salah satu karyawan, mengaku penghasilannya naik 50% selama Ramadan. “Saya bisa kirim uang lebih banyak ke keluarga di desa,” ujarnya.
Bagi pelanggan seperti Budi, dodol D’Tungku adalah nostalgia. “Sejak kecil, Lebaran di rumah selalu ada dodol ini. Rasanya tetap sama, legit dan harum,” kenangnya.
Nurhayati berencana membuka gerai di pusat oleh-oleh Bogor dan mengembangkan varian rasa seperti dodol durian atau coklat. Namun, ia tak ingin tergesa-gesa. “Penting menjaga kualitas. Saya ingin usaha ini tetap dijalankan anak cucu kelak,” ucapnya.
Kisah Nurhayati membuktikan bahwa warisan keluarga bukan sekadar nostalgia, melainkan aset berharga yang bisa dikembangkan dengan sentuhan modern dan dukungan permodalan tepat.
Dari tungku kayu di Bojonggede, dodol D’Tungku tak hanya menghidupi keluarga, tetapi juga menjadi kebanggaan Bogor yang mengakar di hati masyarakat. ***