Ia menekankan pentingnya pelestarian budaya seiring dengan penghijauan, agar masyarakat tidak tercerabut dari akar tradisinya.
Dalam pandangan Dedi Mulyadi, menjaga alam dan budaya adalah dua sisi dari satu perjuangan: merawat masa depan.
Berbeda dari sekadar seremoni, ajakan penghijauan Dedi Mulyadi dibarengi dengan tindakan nyata.
Pemprov Jawa Barat telah memulai inisiatif penanaman ribuan pohon endemik di wilayah Puncak, bekerja sama dengan kelompok masyarakat, pelaku wisata, dan aktivis lingkungan.
Selain itu, program revitalisasi lahan tidur dan pembukaan ruang hijau publik di kawasan Batutulis juga sedang dalam tahap perencanaan.
Dedi Mulyadi juga menyampaikan bahwa pemerintah akan memberikan insentif bagi warga yang bersedia mengonversi lahannya menjadi hutan rakyat atau taman komunitas.
“Kita beri insentif, kita bantu teknisnya, agar masyarakat merasa memiliki,” ujarnya.
Gubernur Dedi Mulyadi percaya, perubahan tidak akan datang dari satu orang atau satu institusi saja. Ia menekankan bahwa solusi jangka panjang ada pada keterlibatan aktif warga.
Ia ingin membangkitkan kembali semangat gotong royong, yang selama ini menjadi kekuatan utama masyarakat Sunda.
“Kita tidak bisa lagi menunggu, kita harus bergerak bersama. Ini tanah kita, ini udara yang kita hirup bersama. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?” tutupnya.
Ajakan Dedi Mulyadi ini bukan sekadar seruan kosong. Ia adalah alarm yang membangunkan kesadaran kolektif bahwa alam bukan warisan, melainkan titipan untuk anak cucu.
Kini saatnya menjawab ajakan itu, bukan hanya dengan tepuk tangan, tetapi dengan cangkul di tangan dan pohon di tanah
Artikel Terkait
One Way Berlaku pada Arus Balik Lebaran 2025, Jalur Puncak Cianjur Dipadati Wisatawan