Ubah Limbah Jadi Berkah, Mahasiswa UPER Olah Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi Ramah Lingkungan

Photo Author
Moh Purwadi, Media 24
- Rabu, 30 April 2025 | 09:26 WIB
Inovasi mahasiswa Universitas Pertamina (UPER), mengolah  minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi cantik nan wangi.  (Foto/Dok/Humas UPER)
Inovasi mahasiswa Universitas Pertamina (UPER), mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi cantik nan wangi. (Foto/Dok/Humas UPER)

MEDIA24.ID, JAKARTA - Tidak banyak yang menyangka, sisa minyak goreng yang biasanya dibuang begitu saja, bisa bertransformasi menjadi lilin aromaterapi cantik nan wangi.

Inilah inovasi yang ditawarkan oleh sekelompok mahasiswa Universitas Pertamina (UPER), yang melihat potensi besar dari minyak jelantah untuk mengurangi limbah sekaligus mendukung gaya hidup berkelanjutan.

Persoalan limbah rumah tangga masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2020), 61 persen limbah rumah tangga adalah limbah organik, termasuk minyak jelantah.

Baca Juga: Jelang Musim Haji 2025, Pertamina Patra Niaga Pastikan Ketersediaan Avtur Aman di 13 Bandara Embarkasi

Di sisi lain, Traction Energy Asia (2023) mencatat Indonesia memproduksi sekitar 1,2 juta kiloliter minyak jelantah setiap tahunnya—cukup untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu eksportir minyak jelantah terbesar di Eropa.

Namun, belum semua limbah minyak ini dikelola dengan baik. Padahal, satu liter minyak bekas bisa mencemari hingga satu juta liter air. Melihat kenyataan ini, lima mahasiswa UPER bergerak mencari solusi kreatif.

Mereka adalah Ni Kadek Karina, Nur Dita Maharani, Haykal Sulthan Hakeem, Rachel Arielle Sibarani dari Program Studi Ekonomi, serta Ni Putu Mirah Marcelinda A.P. dari Program Studi Hubungan Internasional.

Baca Juga: UNS Buka Lowongan Dosen, Tenaga Medis, dan Tendik Non ASN 2025, Cek Syarat dan Jadwalnya

Lewat produk bertajuk Damarwoelan Sustainable Aromatherapy Candle, mereka mengubah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi bernilai ekonomi tinggi sekaligus ramah lingkungan.

"Awalnya kami prihatin, banyak rumah tangga yang tidak tahu harus ke mana membuang minyak bekas. Daripada terbuang sia-sia, kami membelinya dengan harga Rp2.000–Rp5.000 per liter. Dari satu liter saja, kami bisa menghasilkan 20 sampai 30 lilin ukuran 50 gram," tutur Mirah, salah satu anggota tim.

Proses pembuatan lilin ini pun tidak sembarangan. Minyak jelantah difiltrasi menggunakan tanah lempung selama tiga hari agar lebih bersih, kemudian dicampur dengan parafin dan aroma alami seperti lavender, mint, kopi, atau lemon. Menariknya, cetakan lilin menggunakan bambu untuk menegaskan konsep ramah lingkungan.

Hasil akhirnya adalah lilin aromaterapi yang tak hanya wangi, tapi juga memiliki manfaat seperti membantu relaksasi, meningkatkan kualitas tidur, hingga mengusir nyamuk (Afriani et al., 2024). Produk ini dijual dengan harga terjangkau, mulai dari Rp30.000 hingga Rp40.000 per buah, tergantung jenis dan ukuran.

Tak berhenti di situ, tim Damarwoelan kini tengah mengembangkan produk lebih lanjut untuk menyesuaikan preferensi konsumen. Mereka juga membuka peluang kerja sama dengan hotel dan vila untuk memperluas jangkauan pasar.

Produk ini lahir dari program Inkubasi Bisnis Pemula Universitas Pertamina, sebuah wadah yang membekali mahasiswa dengan pelatihan, pendampingan, dan akses sumber daya, agar ide-ide kreatif mereka bisa diwujudkan menjadi produk nyata yang berdampak positif bagi masyarakat.

Halaman:

Editor: Moh Purwadi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X