MEDIA24.ID, JAKARTA. Asrul Sani adalah figur sastrawan yang juga masyhur di dunia perfilman Indonesia. Bersama Usmar Ismail, Djamaluddin Malik, dan tokoh-tokoh lainnya, Asrul Sani berhasil mendirikan Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU.
Lembaga ini ikut berkontentasi dalam mengisi ruang religiositas dalam lembaga kebudayaan di Indonesia.
Lalu bagaimana Asrul Sani dari kacamata keluarga?
Dalam upaya melihat profil Asrul Sani dari kacamata keluarga, Syauqi Sani turut diundang dalam Kuliah Tamu dan Seminar Nasional untuk dapat membagikan pengalamannya semasa hidup bersama ayahnya.
Syauqi Sani mengungkapkan bahwa ayahnya bukan pribadi yang bisa dikekang, namun anehnya ia justru cocok dengan kiai NU.
"Beliau lebih cerita banyak soal kiai NU. Pak Asrul tidak bisa dikekang, namun dia cocok dengan kiai NU," jelas Syauqi.
Asrul Sani dinilai Syauqi Sani tidak pernah melabeli dirinya sebagai tokoh kebudayaan Islam.
Namun menurutnya, pemikiran-pemikiran ayahnya mengarah kepada hal tersebut.
Dia turut membeberkan asal mula terciptanya Surat Kepercayaan Gelanggang, tidak lain karena kemarahan Asrul Sani dengan budaya Barat yang mendominasi.
Surat Kepercayaan Gelanggang merupakan bentuk upaya seniman dan sastrawan Indonesia keluar dari pengaruh angkatan sebelumnya dan menciptakan identitas atau kekhasannya sendiri.
Baca Juga: PBSI UIN Jakarta Gelar Seminar Nasional tentang Asrul Sani dan Spirit Memodernisasi Kebudayaan Islam
Otentisitas Asrul Sani menjadi hal yang muncul dalam penceritaan yang diungkapkan oleh Syauqi.
Asrul Sani mengedepankan otentisitas untuk membangun rumah baru, peradaban baru yang bernama Indonesia.
Bila menilik lebih jauh, sejatinya ini menjadi salah satu tantangan masa kini, yakni kritis terhadap gagasan yang sudah ditawarkan pada generasi di masa lalu.
Artikel Terkait
UIN Jakarta Raih Akreditasi Unggul dari BAN-PT
PBSI UIN Jakarta Gelar Seminar Nasional tentang Asrul Sani dan Spirit Memodernisasi Kebudayaan Islam