MEDIA24.ID, DEPOK - Setiap insan memiliki ujiannya masing-masing, entah itu kesulitan ekonomi, kehilangan orang tercinta, atau kondisi fisik (keterbatasan) yang berbeda dari kebanyakan.
Seperti kisah Ikbal, yang sejak lahir sudah dihadapkan pada kenyataan yang berat atau keterbatasan, namun tak berhenti berjuang untuk menjalani hidupnya.
Sejak dilahirkan, Ikbal sudah dihadapkan dengan kenyataan yang berat atau keterbatadan. Ia terlahir dengan kaki yang kurang lengkap, satu kakinya tak bisa ditekuk dan harus berjuang ketika dilahirkan tanpa anus.
Baca Juga: Polemik Penunjukkan Ifan Seventeen Sebagai Dirut PFN, Helmy Yahya: Beri Dia Kesempatan
Sejak awal, hidupnya adalah perjalanan panjang melawan keterbatasan. Ikbal tinggal bersama ibu dan kakaknya, ibu yang selalu menjadi pahlawan bagi putra putrinya.
Bagi seorang ibu, tak ada pilihan selain tetap menjalani kehidupan. Ketika keluarga suaminya tak menerima kondisi Ikbal, Marliani dipaksa memilihantara tetap tinggal tapi menyerahkan Ikbal ke panti asuhan atau pergi.
Hatinya tak sanggup meninggalkan Ikbal, namun dengan keteguhan hati, Marliani memilih pergi, meninggalkan segalanya demi merawat anak yang Allah titipkan padanya.
“Mau nggak mau aku pergi dari rumah, biarlah semuanya aku tinggalin, aku bawa Ikbal dengan kondisi seperti itu, belum dioperasi, nggak punya anus, sedangkan dia butuh pampers, kantong kolostomi. Kita bawa Ikbal, kita ngontrak satu petak dengan kondisi seperti itu,” cerita Marliani.
Baca Juga: Terkait Pembayaran Royalti, Judika Bungkam Usai Dibilang Nyolong Lagu Dewa 19 oleh Ahmad Dhani
Hari-hari berikutnya adalah pertarungan melawan kesulitan. Marliani harus mengurus Ikbal yang membutuhkan kantong kolostomi, pampers, dan perawatan medis intensif. Bolak-balik ke rumah sakit menjadi rutinitas Marliani dan Ikbal selama tiga bulan.
Keterbatasan ekonomi yang menimpanya, ia tetap bertahan, mengandalkan usaha catering kecil-kecilan demi menghidupi kedua anaknya. Katanya, air matanya telah habis tapi semangat Ikbal dan Marliani tak pernah pudar.
Perjuangan Marliani dan Ikbal tak hanya di ranah ekonomi. Saat ingin menyekolahkan Ikbal, mereka mendapati penolakan bertubi-tubi. TK menolak, SD menutup pintu, madrasah pun tak menerima. SLB menjadi pilihan, tapi biayanya tak terjangkau.
“Kalau anak ‘kaya gini’ ga bisa,” cetus seseorang.
“Gimana orang tua ga sakit hati, saya pulang daftarin Ikbal sekolah mandi air mata, begini anak disabilitas. Anak disabilitas itu ga diterima, kasian banget ibu-ibu yang punya anak disabilitas seperti saya,” kata Marliani sambil menyeka air matanya.
Artikel Terkait
Sambut Ramadan 1446 H, Dompet Dhuafa Gulirkan Program Zakat untuk Masyarakat
Dompet Dhuafa Kirim Tim Kemanusiaan ke Palestina hingga Kirim Ratusan Dai Ke Belasan Negara
Dompet Dhuafa Bersama Marcella Zalianty dan Chef Amanda, Siapkan Ratusan Porsi Menu Berbuka Puasa
Parcel Ramadan Dompet Dhuafa, Bingkisan Penuh Makna Kebahagiaan dan Kebaikan
Berikan Edukasi Mitigasi Bencana, Dompet Dhuafa Gelar Program Grebek Kampung di Jakarta Timur