“Harapan saya dengan adanya Magister Desain kita bisa menyiapkan mahasiswa untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam perancangan dan penerapan teknologi digital serta praktik bisnis yang berkeberlanjutan dalam aspek lingkungan, budaya, sosial dan ekonomi. Diharapkan lulusannya dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan perekonomian Indonesia,” tambah Andrey.
Program Magister Desain UMN ini dirancang dan dibuat dengan tujuan untuk mengikuti ilmu pengetahuan yang terus berkembang. Pengembangan ilmu desain ke jenjang yang lebih tinggi menjadi langkah tepat dan harus diambil oleh UMN, melihat capaian Akreditasi Unggul UMN, serta Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) yang telah meraih akreditasi A, dan memperoleh pengakuan AUN-QA.
“Dalam pembelajaran dan kurikulum Magister Desain kita sudah mengintegrasikan Artificial Intelligence dan Sustainability. Hal ini sebagai wujud kami menerapkan sustainability dan tidak meninggalkan teknologi yang ada," kata Friska Natalia.
"Harapan saya kedepannya nanti akan banyak peminat Magister Desain dan terus meningkat, sehingga UMN diakui secara global dan bisa mencapai World Class University,” lanjut Friska Natalia selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Internasionalisasi.
Program studi Magister Desain nantinya akan selaras dengan rencana universitas dan kebutuhan industri. Friska berharap nantinya lulusan Magister Desain UMN memiliki kompetensi dalam penguasaan teknologi dan green skills.
“Program Magister Desain UMN menitikberatkan pada pendekatan interdisipliner dalam keilmuan desain, dengan fokus pada isu keberlanjutan dan teknologi digital. Desain diposisikan sebagai metode strategis untuk merancang, merencanakan, dan diharapkan menciptakan kehidupan yang lebih baik, melalui artefak maupun sistem dan layanan yang dirancang secara terencana," kata Muhammad Cahya Mulya.
"Tanpa memandang latar belakang keilmuan sebelumnya, setiap mahasiswa akan memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang cara berpikir desain (design thinking),” tambah Muhammad Cahya Mulya Daulay, selaku Dekan Fakultas Seni dan Desain.
Bagi Cahya, penekanan pada isu sustainability bukan hanya tren dan jargon semata, namun pola pikir yang strategis. Segala tindakan harus mempertimbangkan dampak jangka panjang, bukan sekadar solusi sesaat yang mengabaikan akibat di masa depan. Tidak terbatas pada isu lingkungan, namun juga mencakup sistem, layanan, dan artefak yang digunakan manusia sehari-hari.
“Di sinilah peran desain menjadi krusial. Proses merancang merupakan ikhtiar untuk menciptakan solusi berkelanjutan, baik sebagai fondasi baru maupun sebagai upaya merestorasi objek atau sistem yang telah ada agar memiliki usia guna dan nilai manfaat yang lebih panjang,” tambah Cahya.
Cahya berharap Program Magister Desain UMN menjadi wadah lahirnya intelektual desain, pemikir, dan pelaku yang memanfaatkan ilmu dan keterampilannya, dan mencetak problem solver untuk berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa dengan pendekatan desain yang strategis dan kontekstual.
Grand launching Magister Desain UMN kali ini juga terdapat pemaparan materi singkat dari Dwi Santoso selaku Staff Ahli Kementerian Komunikasi dan Digital. Pada kesempatan ini Dwi memaparkan tentang kemajuan teknologi saat ini salah satunya Artificial Intelligence (AI). Manusia sudah melewati banyak era kemajuan teknologi mulai dari era plastik, era microchip, hingga saat ini era AI.
“Perkembangan saat ini sangat pesat dan kita kenal salah satu teknologi Generative AI salah satunya aplikasi ChatGPT. Teknologi generative AI ini mengumpulkan data-data dari internet dan diringkas diberikan kepada manusia, jadi semua hal yang kita upload ke media sosial itu masuk ke big data internet. Maka dari hal ini manusia tidak akan bisa digantikan oleh AI,” ucap Dwi.
Bagi Dwi sentuhan dan perasaan manusia akan selalu dibutuhkan karena teknologi tidak akan bisa memberikan hal tersebut. Teknologi hanya membantu secara logika, data, skala dan lain-lainnya. Namun secara estetika dan perasaan hanya bisa didapatkan dari manusia.
“Seni dan desain itu tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, tidak seperti AI yang bilangan biner 0 dan 1, yang diberikan oleh AI adalah prompt dari polling dan riset yang dipelajari. Terutama hal-hal yang berhubungan dengan eksistensial, filsafat, dan seni,” tambah Dwi. ***