MEDIA24.ID - Rencana pemerintah untuk meliburkan sekolah selama bulan Ramadan menuai beragam tanggapan dari masyarakat.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, mengungkapkan bahwa keputusan ini telah disepakati dan tinggal menunggu Surat Edaran (SE) yang akan diterbitkan bersama oleh tiga kementerian terkait.
Namun, wacana ini tidak luput dari perdebatan, dengan sebagian masyarakat mendukung dan sebagian lainnya merasa keberatan.
Baca Juga: Rencana Libur Sekolah Selama Ramadan, Keputusan Final Tunggu Surat Edaran
Dukungan Orang Tua: Fokus Istirahat dan Ibadah
Bagi Supriyani (52), warga Manggarai, Jakarta Selatan, libur selama Ramadan dianggap penting untuk memberikan waktu istirahat lebih banyak bagi siswa.
“Kalau sekolah, kasihan anak-anak harus bangun malam untuk sahur, lalu tidur sebentar sebelum sekolah. Itu bisa bikin pusing kepala,” katanya.
Senada dengan Supriyani, Arip (45), warga Cilincing, juga mendukung rencana pemerintah. Ia menekankan pentingnya tetap memberikan tugas atau kegiatan belajar meskipun sekolah diliburkan.
“Kalau saya sih setuju aja, asalkan ada tugas-tugas dari sekolah biar anak tetap belajar,” ujar Arip.
Baca Juga: 9 Hidangan Wajib Saat Imlek, Simbol Harapan dan Keberuntungan Keluarga
Pro-Kontra di Kalangan Orang Tua
Di sisi lain, rencana ini memicu kekhawatiran di kalangan orang tua lainnya. Sebagian menilai libur panjang bisa membuat anak kehilangan fokus belajar dan berisiko bermalas-malasan.
Bagi sebagian orang tua, mengurangi jam belajar di sekolah atau menggantinya dengan kegiatan religius seperti pesantren kilat dianggap sebagai solusi yang lebih efektif.
Keputusan final mengenai kebijakan ini masih menunggu pengumuman resmi dari pemerintah.
Dengan Surat Edaran yang sedang dipersiapkan, masyarakat berharap kebijakan ini mampu mengakomodasi kebutuhan siswa untuk tetap belajar sekaligus mendukung nilai-nilai spiritual selama Ramadan.