MEDIA24.ID, BOGOR - Di tengah gempuran camilan kekinian, Dodol D’Tungku asal Bojonggede, Bogor, justru merajai pasar jelang Lebaran dengan omzet mencapai Rp150 juta selama Ramadan.
Di balik kesuksesan ini, ada peran vital pembinaan, pendampingan, dan pendanaan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang mengubah usaha rumahan turun-temurun ini menjadi bisnis modern berdaya saing di level nasional.
Dodol D’Tungku pertama kali dirintis pada 1950-an oleh nenek Nurhayati (45), seorang perempuan buta huruf yang mengandalkan resep tradisional dan ketekunan untuk menghidupi keluarga.
Baca Juga: Kisah Nurhayati Sukses Besarkan Usaha Warisan Keluarga Dodol D’Tungku Berkat Pendanaan KUR BRI
Usaha ini kemudian diteruskan oleh sang ibu, Hajjah Muhayya, sejak 1985. Namun, di tahun 2021, ketika sang ibu sakit, Nurhayati—yang saat itu berprofesi sebagai guru Madrasah Ibtidaiyah (MI)—memutuskan meninggalkan zona nyaman.
“Awalnya tidak tertarik. Tapi, siapa lagi yang akan melanjutkan warisan ini? Ternyata, mengelola dodol tidak menyita waktu. Saya tetap bisa mengajar,” ujar Nurhayati, generasi ketiga pemegang resep rahasia D’Tungku.
Motivasi terbesarnya adalah kisah kakek-neneknya: “Mereka buta huruf saja bisa sukses. Saya yang berpendidikan harusnya lebih baik.”
Kendati Dodol D’Tungku telah menjadi legenda lokal, tantangan datang dari persaingan pasar dan tuntutan modernisasi.
Di sinilah BRI masuk melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp100 juta pada 2020. Dana ini menjadi katalisator untuk membeli bahan baku dalam jumlah besar, meningkatkan kapasitas produksi, dan memperluas jaringan pemasaran.
“KUR BRI sangat membantu. Tanpa agunan, bunga rendah, dan proses cepat. Saya bisa beli tepung ketan dan gula jawa dalam jumlah besar untuk stok Ramadan,” tutur Nurhayati.
Tidak hanya pendanaan, BRI juga memberikan pendampingan menyeluruh, mulai dari peningkatan kualitas produk, modernisasi kemasan, hingga strategi pemasaran digital.
Salah satu inovasi utama adalah kemasan estetik berbentuk keranjang anyaman yang dijual seharga Rp65.000. “Ini jadi oleh-oleh khas Bogor yang menarik pasar menengah,” jelas Nurhayati.
Artikel Terkait
Sate Kambing PUAS, Kuliner Legendaris Pulomas Ini Makin Ngebul Berkat Pendampingan dan Pembiayaan KUR BRI
Usahanya Bangkit Berkat KUR BRI, Berikut Kisah Sutrisno dan Sate Kambing PUAS yang Kembali Melegenda
KUR BRI Cetak UMKM Tangguh di Jakarta: Akses Cepat, Pendampingan Holistik, dan Transformasi Digital
Kisah Nurhayati Sukses Besarkan Usaha Warisan Keluarga Dodol D’Tungku Berkat Pendanaan KUR BRI
Berkat KUR BRI, Usaha Es Kelapa Beni Irawan Berkembang hingga 6 Cabang dengan Omset Rp150 Juta per Bulan