Pro dan Kontra Rencana Libur Sekolah Selama Ramadan, Antara Peluang Beribadah dan Tantangan Belajar

Photo Author
Rahmah Zakiya, Media 24
- Jumat, 17 Januari 2025 | 08:00 WIB
Siswa mengerjakan soal-soal ANBK  (Dok. Media24 )
Siswa mengerjakan soal-soal ANBK (Dok. Media24 )

MEDIA24.ID - Pemerintah berencana meliburkan sekolah selama bulan Ramadan, dengan keputusan akhir menunggu diterbitkannya Surat Edaran (SE).

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menyatakan bahwa kebijakan ini telah dibahas lintas kementerian dan tinggal menunggu finalisasi.

Namun, wacana ini menimbulkan beragam tanggapan dari orang tua siswa, yang terbagi antara mendukung dan menolak rencana tersebut. 

Baca Juga: Rencana Libur Sekolah Selama Ramadan, Keputusan Final Tunggu Surat Edaran

Bagi sebagian orang tua, seperti Rinny (55), rencana libur selama Ramadan justru memicu kekhawatiran. Ia mengaku anaknya yang duduk di bangku SMA cenderung bermalas-malasan jika tidak ada rutinitas sekolah.

“Tidak semua anak otomatis sibuk dengan kegiatan positif, apalagi sedang puasa. Bisa jadi malah main gim sepanjang hari,” ujar Rinny saat dikonfirmasi awak media, Kamis (16/1/2025).

Menurutnya, waktu sebulan selama Ramadan lebih baik dimanfaatkan untuk belajar di sekolah karena tidak semua siswa mudah memahami pelajaran dalam waktu singkat.

Hal serupa disampaikan Sarah (37), yang khawatir anaknya sulit konsentrasi belajar di rumah.

“Belajar di rumah tidak akan efisien karena banyak gangguan. Tapi, sisi positifnya, anak bisa fokus beribadah,” kata Sarah.

Baca Juga: 9 Hidangan Wajib Saat Imlek, Simbol Harapan dan Keberuntungan Keluarga

Ia menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan pengurangan jam belajar atau mengganti dengan kegiatan pesantren kilat.

Mario (35), orang tua siswa di Jakarta Utara, juga mengaku keberatan. Ia mengkhawatirkan dampak sosial seperti meningkatnya potensi tawuran antar remaja.

Selain itu, sebagai orang tua siswa di sekolah swasta, ia merasa dirugikan karena tetap harus membayar SPP tanpa adanya kegiatan belajar-mengajar.

“Kalau anak sekolah negeri mungkin setuju, tapi kami yang bayar SPP di sekolah swasta merasa rugi,” ujarnya. 

Halaman:

Editor: Rahmah Zakiya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X