opini

Peran Strategis Humas Menjaga Citra dan Kepercayaan Publik

Minggu, 5 Oktober 2025 | 20:06 WIB
Budiyono, Pranata Humas Ditjen Bimas Buddha Kementerian Agama RI (Foto/Dok/Pribadi)

Desakan ini murni muncul dari kepentingan publik yang diungkapkan melalui platform media sosial. Desakan ini kemudian kian membesar yang ternyata juga ditangkap dengan cepat dan tepat oleh polisi dalam hal ini, Korlantas Polri.

Dalam hitungan kurang dari sepekan setelah muncul petisi itu, Polri langsung melarang penggunaan strobo dan sirene kecuali dalam kondisi sangat mendesak dan khusus seperti pengawalan khusus, ambulans dan sebagainya (detik.com, 19 September 2025).

Fungsi kehumasan Polri tampak berjalan baik karena mampu menjembatani dorongan masyarakat ini dengan pimpinan di kepolisian. Sebaliknya, humas polisi juga cakap menyampaikan kebijakan baru pimpinan polisi kepada masyarakat sehingga mampu ditangkap secara utuh.

Muaranya, citra (branding) tetap mampu dipertahankan dengan baik kendati mendapat sorotan tajam dari masyarakat. Sebaliknya, masyarakat juga kian menaruh kepercayaan (trust) yang sangat besar kepada kepolisian karena lembaga-lembaga yang dinilai responsif dan memahami suasana batin yang dihadapi masyarakat.

Demikian juga di Kementerian Agama yang berhasil mengenalkan Tepuk Sakinah kepada publik secara baik dalam satu bulan terakhir. Lewat pemanfaatan media sosial Tik Tok dan Instragram misalnya, fenomena Tepuk Sakinah kini seolah sudah menjadi tren baru hiburan di masyarakat Indonesia.

Selain terasa terhibur, pada saat sama publik yang tertancap kognisinya akan pentingnya menjaga hubungan yang harmonis antara suami dan istri.

Pesan-pesan dari Ditjen Bimas Islam Kemenag yang tercapai dengan baik ini sejatinya proses dari komunikasi kehumasan yang dilakukan secara maksimal (Jawa Pos, 1 Oktober 2025).

Pola-pola kerja kehumasan yang efektif inilah yang perlu menjadi pelajaran berharga. Karena sejatinya, di setiap organisasi atau kelembagaan menuntut pola penjembatan informasi maupun komunikasi secara mumpuni. Manusia tidak sekadar berstruktur untuk memenuhi kebutuhan celana, apalagi tempat buangan pegawai yang dianggap bandel, sulit diatur, dan pemalas.

Dengan mengundang strategi, jelas sekali seorang manusia dituntut memiliki mental yang kuat, profesional, adaptif, tahan banting, serta tidak mudah terbawa perasaan atau baper. Itulah kunci keberhasilan dalam menjalankan fungsi kehumasan di tengah dinamika komunikasi modern yang semakin berkembang.

Humas juga harus mampu mengolah informasi menjadi sebuah berita yang jelas, menarik, dan mudah dipahami oleh masyarakat dengan tetap menjaga prinsip akurasi, transparansi, dan kecepatan.

Seorang manusia juga harus memiliki pola komunikasi dan koordinasi yang baik, disertai sikap humanis, murah senyum, serta mampu menjaga keseimbangan ketahanan batin dan mental.

Humas juga dituntut untuk peka dalam membaca situasi dan isu yang berkembang, serta tidak terburu-buru menyampaikan informasi yang belum jelas faktanya. Dan tetap menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus memperkuat citra positif lembaga.

Dari berbagai hal di atas, jelas bahwa humas merupakan benteng utama dalam menjaga reputasi lembaga sekaligus agen perubahan yang menumbuhkan kepercayaan masyarakat. Dengan kemampuan berinteraksi yang tepat, peran manusia akan semakin kuat dan relevan di era keterbukaan informasi yang penuh tantangan.

Halaman:

Tags

Terkini

Batasi Intervensi Negara dalam Koperasi

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:19 WIB

Minimarket Koperasi dan Minimarket Kapitalis

Selasa, 3 Maret 2026 | 11:35 WIB

Perguruan Tinggi dan Agenda Kebangsaan

Senin, 19 Januari 2026 | 20:26 WIB

Imperatif Obligation dan Ekologi Integral

Senin, 8 Desember 2025 | 20:40 WIB

Argumen Pembentukan Ditjen Pesantren

Minggu, 26 Oktober 2025 | 18:40 WIB

Reformasi DPR: Desakan yang Kian Tak Terbendung

Kamis, 2 Oktober 2025 | 09:01 WIB

Menjaga Indonesia

Rabu, 3 September 2025 | 14:14 WIB