opini

Berharap pada Tangan-Tangan Tak Terlihat

Minggu, 16 Februari 2025 | 21:50 WIB
Adam Smith (Wikipedia) (Uji Agung Santosa)

OPINI, MEDIA24.ID-Masih ingat dengan Adam Smith? Adam Smith adalah bapak ekonomi modern yang mengenalkan prinsip kebebasan pasar dan kepentingan individu.

Dalam bukunya The Wealth of Nations (1776), Adam Smith menggarisbawahi beberapa poin penting filosofi ekonomi, antara lain konsep tangan tak terlihat atau invisible hand. Konsep ini menggambarkan mekanisme pasar yang mengatur penawaran dan permintaan secara alami.

Menurutnya, jika individu dibiarkan mengejar kepentingan pribadi mereka sendiri, tanpa campur tangan pemerintah yang berlebihan, pasar akan secara otomatis mencapai keseimbangan.

Smith yakin pemerintah seharusnya hanya berperan terbatas dalam hal-hal tertentu, seperti menjaga keamanan, menegakkan hukum, dan menyediakan infrastruktur publik yang tidak bisa disediakan secara efisien oleh sektor swasta.

Adam Smith percaya bahwa kepentingan pribadi adalah motor ekonomi. Dengan begitu maka ketika setiap individu bekerja untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, tanpa sengaja mereka justru berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Smith menentang monopoli dan proteksionisme. Ia percaya bahwa perdagangan bebas akan membawa manfaat besar bagi semua pihak karena masing-masing dapat memanfaatkan keunggulan kompetitif yang dimilikinya.

Efisiensi Membuka Ruang Lebih Besar ke Swasta

Beberapa konsep Adam Smith sepertinya masih dianggap relevan dengan kondisi saat ini. Salah satunya konsep tentang tangan-tangan tak terlihat.

Mengapa? Jika berkaca pada langkah pemerintah yang memangkas budget APBN 2025 sebesar Rp306,7 triliun, analogi invisible hand bisa sedikit masuk akal. Langkah efisiensi fiskal dengan mengurangi belanja operasional dan non-operasional ini membuka ruang yang lebih besar bagi peran pasar dan sektor swasta.

Dengan efisiensi ini pemerintah tampaknya berharap konsep invisible hand yang digagas Adam Smith berjalan. Sedikit berasumsi, dengan anggaran yang dipangkas, pemerintah berupaya mengurangi intervensinya dalam berbagai kegiatan ekonomi.

Jika sesuai dengan pemikiran Adam Smith, langkah ini akan membuat pasar secara otomatis menyeimbangkan dirinya sendiri melalui mekanisme penawaran dan permintaan tanpa perlu campur tangan berlebihan dari pemerintah.

Sektor swasta diharapkan mengambil alih sebagian besar peran dalam pembangunan dan penyediaan layanan publik. Dalam konteks Indonesia, jika tangan-tangan tak terlihat ini benar-benar efektif maka dapat membuka peluang investasi yang lebih luas, meningkatkan efisiensi, dan mendorong inovasi di berbagai sektor.

Bukan Tanpa Risiko

Namun mengandalkan invisible hand bukan tanpa risiko. Salah satu kekhawatiran utama adalah kegagalan pasar dalam sektor-sektor strategis seperti kesehatan, pendidikan, dan pembangunan infrastruktur dasar. Tanpa campur tangan pemerintah yang memadai, akses masyarakat terhadap layanan vital ini bisa terancam.

Ketimpangan ekonomi juga menjadi tantangan serius. Pasar bebas cenderung menguntungkan pelaku usaha besar yang memiliki sumber daya lebih besar, sementara usaha kecil dapat terpinggirkan. Kesenjangan antara daerah maju dan tertinggal akan makin lebar, seiring dengan pengurangan alokasi dana ke daerah.

Halaman:

Tags

Terkini

Batasi Intervensi Negara dalam Koperasi

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:19 WIB

Minimarket Koperasi dan Minimarket Kapitalis

Selasa, 3 Maret 2026 | 11:35 WIB

Perguruan Tinggi dan Agenda Kebangsaan

Senin, 19 Januari 2026 | 20:26 WIB

Imperatif Obligation dan Ekologi Integral

Senin, 8 Desember 2025 | 20:40 WIB

Argumen Pembentukan Ditjen Pesantren

Minggu, 26 Oktober 2025 | 18:40 WIB

Reformasi DPR: Desakan yang Kian Tak Terbendung

Kamis, 2 Oktober 2025 | 09:01 WIB

Menjaga Indonesia

Rabu, 3 September 2025 | 14:14 WIB