Lebaran dan Kompetisi Konsumeristik

Photo Author
Moh Purwadi, Media 24
- Selasa, 1 April 2025 | 12:19 WIB
Fadhly Azhar, Petugas Pesantren Ramah Anak pada Direktorat Pesantren, Kemenag (Foto/Ist)
Fadhly Azhar, Petugas Pesantren Ramah Anak pada Direktorat Pesantren, Kemenag (Foto/Ist)

Selain faktor ekonomi dan media, norma sosial juga berperan besar dalam persaingan konsumeristik saat Lebaran.

Teori interaksi simbolik yang diajukan oleh Erving Goffman menggambarkan kehidupan sosial sebagai sebuah panggung teater, di mana individu berusaha menampilkan citra diri yang ideal di depan orang lain.

Dalam konteks Lebaran, ini berarti menunjukkan bahwa seseorang telah mencapai keberhasilan ekonomi melalui pilihan pakaian, kendaraan, atau bahkan oleh-oleh yang dibawa saat mudik.

Tidak hanya itu, ada juga tekanan sosial untuk memberikan sumbangan, yang menjadi bagian dari kompetisi ini dan sering kali tidak sejalan dengan pemenuhan hak-hak dasar.

Masyarakat merasa perlu memberikan "sumbangan" yang lebih besar kepada keluarga besar atau lingkungan sekitar untuk menunjukkan keberhasilan finansial mereka.

Sayangnya, bagi sebagian orang, hal ini justru menjadi beban ekonomi yang berat, terutama jika mereka harus memaksakan diri dengan berutang atau mengorbankan kebutuhan jangka panjang demi memenuhi ekspektasi sosial tersebut.

Mengembalikan Esensi Lebaran

Perlu perenungan mendalam terhadap makna sebenarnya dari Lebaran. Dalam ajaran Islam, kesederhanaan sangat ditekankan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk saat merayakan hari-hari besar keagamaan.

Seharusnya, makna sejati Lebaran tidak terletak pada seberapa banyak yang kita miliki atau belanjakan, melainkan pada bagaimana kita memperkuat hubungan silaturahmi, berbagi dengan sesama, dan meningkatkan ketakwaan kita.

Sebagai bagian dari masyarakat, penting bagi kita untuk membangun kesadaran kolektif agar tidak terjebak dalam kompetisi konsumsi yang berlebihan.

Mengedukasi diri sendiri dan orang lain tentang pentingnya hidup sesuai dengan kemampuan finansial serta menekankan nilai-nilai kebersamaan yang lebih mendalam bisa menjadi langkah awal untuk mengurangi dampak negatif dari budaya konsumtif saat Lebaran. Apalagi di tengah-tengah efisensi anggaran negara yang terjadi saat ini.

Pada akhirnya, Lebaran seharusnya menjadi momen untuk kembali kepada kesederhanaan dan kebersamaan, bukan sekadar ajang perlombaan dalam mengonsumsi barang dan jasa.

Dengan mengutamakan kembali nilai-nilai spiritual dan sosial di atas kepentingan material, kita bisa merayakan Lebaran dengan lebih bermakna, tanpa terjebak dalam siklus kompetisi konsumeristik yang tak ada habisnya. Hadaanallahu wa iyyakum ajmain. Wallahulmuwafiq ilaa aqwami thariiq. Wassalam. ***

Halaman:

Editor: Moh Purwadi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Terkini

Batasi Intervensi Negara dalam Koperasi

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:19 WIB

Minimarket Koperasi dan Minimarket Kapitalis

Selasa, 3 Maret 2026 | 11:35 WIB

Perguruan Tinggi dan Agenda Kebangsaan

Senin, 19 Januari 2026 | 20:26 WIB

Imperatif Obligation dan Ekologi Integral

Senin, 8 Desember 2025 | 20:40 WIB

Argumen Pembentukan Ditjen Pesantren

Minggu, 26 Oktober 2025 | 18:40 WIB

Reformasi DPR: Desakan yang Kian Tak Terbendung

Kamis, 2 Oktober 2025 | 09:01 WIB

Menjaga Indonesia

Rabu, 3 September 2025 | 14:14 WIB
X