Selain faktor ekonomi dan media, norma sosial juga berperan besar dalam persaingan konsumeristik saat Lebaran.
Teori interaksi simbolik yang diajukan oleh Erving Goffman menggambarkan kehidupan sosial sebagai sebuah panggung teater, di mana individu berusaha menampilkan citra diri yang ideal di depan orang lain.
Dalam konteks Lebaran, ini berarti menunjukkan bahwa seseorang telah mencapai keberhasilan ekonomi melalui pilihan pakaian, kendaraan, atau bahkan oleh-oleh yang dibawa saat mudik.
Tidak hanya itu, ada juga tekanan sosial untuk memberikan sumbangan, yang menjadi bagian dari kompetisi ini dan sering kali tidak sejalan dengan pemenuhan hak-hak dasar.
Masyarakat merasa perlu memberikan "sumbangan" yang lebih besar kepada keluarga besar atau lingkungan sekitar untuk menunjukkan keberhasilan finansial mereka.
Sayangnya, bagi sebagian orang, hal ini justru menjadi beban ekonomi yang berat, terutama jika mereka harus memaksakan diri dengan berutang atau mengorbankan kebutuhan jangka panjang demi memenuhi ekspektasi sosial tersebut.
Mengembalikan Esensi Lebaran
Perlu perenungan mendalam terhadap makna sebenarnya dari Lebaran. Dalam ajaran Islam, kesederhanaan sangat ditekankan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk saat merayakan hari-hari besar keagamaan.
Seharusnya, makna sejati Lebaran tidak terletak pada seberapa banyak yang kita miliki atau belanjakan, melainkan pada bagaimana kita memperkuat hubungan silaturahmi, berbagi dengan sesama, dan meningkatkan ketakwaan kita.
Sebagai bagian dari masyarakat, penting bagi kita untuk membangun kesadaran kolektif agar tidak terjebak dalam kompetisi konsumsi yang berlebihan.
Mengedukasi diri sendiri dan orang lain tentang pentingnya hidup sesuai dengan kemampuan finansial serta menekankan nilai-nilai kebersamaan yang lebih mendalam bisa menjadi langkah awal untuk mengurangi dampak negatif dari budaya konsumtif saat Lebaran. Apalagi di tengah-tengah efisensi anggaran negara yang terjadi saat ini.
Pada akhirnya, Lebaran seharusnya menjadi momen untuk kembali kepada kesederhanaan dan kebersamaan, bukan sekadar ajang perlombaan dalam mengonsumsi barang dan jasa.
Dengan mengutamakan kembali nilai-nilai spiritual dan sosial di atas kepentingan material, kita bisa merayakan Lebaran dengan lebih bermakna, tanpa terjebak dalam siklus kompetisi konsumeristik yang tak ada habisnya. Hadaanallahu wa iyyakum ajmain. Wallahulmuwafiq ilaa aqwami thariiq. Wassalam. ***