#KaburAjaDulu, Refleksi Kelas Menengah yang Terabaikan

Photo Author
Uji Agung Santosa, Media 24
- Selasa, 25 Februari 2025 | 21:01 WIB
Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menggelar aksi demo dengan tema Indonesia Gelap di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat pada Senin, 17 Februari 2025 (Gunawan Daulay)
Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menggelar aksi demo dengan tema Indonesia Gelap di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat pada Senin, 17 Februari 2025 (Gunawan Daulay)

MEDIA24.ID- Membaca kembali tulisan Muhamad Chatib Basri tentang “Kelas Menengah dan Chilean Paradox”, saya teringat dua tagar yang sedang ramai dibicarakan yaitu #KaburAjaDulu dan #IndonesiaGelap.

Satu tanda tanya besar pun muncul, apakah dua tagar itu adalah refleksi dari kelas menengah yang terabaikan?

Chilean Paradox merujuk pada gelombang unjuk rasa di Chile pada tahun 2019. Protes besar terjadi setelah pemerintah menaikkan tiket kereta bawah tanah Santiago Metro. Langkah itu diprotes karena meningkatkan biaya hidup kelas menengah.

Kelas menengah merasa terabaikan walau Chile mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan menurunkan jumlah kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi tanpa inklusivitas hanya menciptakan stabilitas semu.

#KaburAjaDulu Itu adalah Kita, Kelas Menengah!

Tagar #KaburAjaDulu adalah bentuk kekecewaan dan pelarian terhadap sistem yang tidak berpihak. Sedangkan #IndonesiaGelap adalah bentuk perlawanan kolektif terhadap ketimpangan dan ketidakadilan ekonomi.

Lalu apa hubungannya dengan kelas menengah? Kelas menengah pada umumnya adalah mereka yang berpendidikan yang menjadi motor konsumsi Indonesia. Mereka menggunakan media sosial sebagai ruang protes.

Berdasarkan data BPS, jumlah kelas menengah di Indonesia pada 2019 sebanyak 57,33 juta orang atau setara 21,45% total penduduk. Jumlah itu turun menjadi 47,85 juta orang atau setara 17,13% di 2024.

Tekanan ekonomi membuat jumlah kelas menengah turun. Kenaikan biaya hidup, terutama pendidikan, kesehatan, perumahan, tidak sebanding dengan kenaikan upah yang diterima.

Mereka menghadapi tantangan mencari pekerjaan yang layak dan biaya hidup tinggi. Beban yang makin berat ditambah perilaku pejabat publik yang tidak simpatik.

Kesenjangan Persepsi yang Semakin Tinggi

Ini membuat kesenjangan persepsi semakin tinggi. Pemerintah mengklaim kemajuan, tetapi rakyat merasakan ketidakadilan. Apalagi pada kelas menengah yang minim perlindungan sosial

Kebijakan ekonomi dan politik tidak berpihak pada mereka. Berbeda dengan kelas bawah yang banyak menikmati bantuan atau kelas atas yang menikmati hasil pertumbuhan ekonomi.

Jika tidak segera direspons dengan kebijakan yang lebih inklusif, tren ini bisa menjadi indikasi awal dari menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintahan.

Ditambah dengan aspirasi kelas menengah, terkait reformasi birokrasi, anti-korupsi, dan perlindungan lingkungan yang diabaikan, membuat frustasi politik makin besar.

Tagar #KaburAjaDulu dan #IndonesiaGelap adalah bentuk resistensi pasif, mirip gerakan sosial di Chile yang dimulai dari internet.

Halaman:

Editor: Uji Agung Santosa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Artikel Terkait

Terkini

Batasi Intervensi Negara dalam Koperasi

Minggu, 15 Maret 2026 | 13:19 WIB

Minimarket Koperasi dan Minimarket Kapitalis

Selasa, 3 Maret 2026 | 11:35 WIB

Perguruan Tinggi dan Agenda Kebangsaan

Senin, 19 Januari 2026 | 20:26 WIB

Imperatif Obligation dan Ekologi Integral

Senin, 8 Desember 2025 | 20:40 WIB

Argumen Pembentukan Ditjen Pesantren

Minggu, 26 Oktober 2025 | 18:40 WIB

Reformasi DPR: Desakan yang Kian Tak Terbendung

Kamis, 2 Oktober 2025 | 09:01 WIB

Menjaga Indonesia

Rabu, 3 September 2025 | 14:14 WIB
X