Kedua, soal gaya hidup masyarakat desa yang kini nyaris tak berbeda dengan penduduk kota. Obrolan harian mereka sudah menyentuh isu-isu kota—dari kasus korupsi pejabat, skandal perselingkuhan tokoh publik, perdebatan seputar klaim nasab Nabi, hingga tren teknologi terkini seperti AI. Apa yang menjadi bahan perbincangan warga kota, kini juga jadi bahan obrolan wong ndeso.
Fenomena ini tentu tidak lepas dari pengaruh media sosial dan akses internet yang makin mudah. Hampir semua orang, dari anak-anak hingga lansia, menggenggam ponsel pintar.
Mereka menikmati konten-konten digital—dari yang serius seperti kajian Gus Baha, hingga yang receh, jorok, dan nirfaedah. Dunia maya sudah masuk sampai ke sudut-sudut kampung.
Ketiga, pergaulan anak-anak muda di desa yang juga mengalami perubahan drastis. Banyak remaja seusia SMP sudah naik motor, nongkrong di pinggir sawah sambil merokok.
Banyak juga yang mendesak orang tuanya untuk dibelikan motor. Di kota mungkin ini bentuk "clubbing" membangun komunitas. Tapi di desa, muncul tren pacaran bebas, hamil di luar nikah, bahkan penggunaan miras.
Masjid dan langgar pun mulai kehilangan jamaah cilik. Anak-anak lebih sibuk bermain game atau scrolling TikTok. Madrasah diniyyah atau sekolah agama sore makin sepi peminat. Anak-anak ogah belajar agama, dan orang tuanya pun makin cuek karena sibuk dengan gadget masing-masing.
Gaya hidup konsumtif dan kemerosotan moral di kalangan anak muda desa ini menimbulkan kegelisahan di kalangan orang tua dan tokoh masyarakat.
Banyak remaja yang enggan melanjutkan pendidikan ke pesantren. Tak sedikit pula gadis-gadis desa usia kuliah yang memilih bekerja sebagai TKW di Hong Kong, Korea, dan negara lainnya.
Memang, itu bukan hal yang salah, namun menjadi keprihatinan tersendiri karena menunjukkan betapa rapuhnya kondisi ekonomi dan sosial di pedesaan kita.
Inilah fenomena sosial yang tengah mengalami kontraksi. Sebuah kondisi yang patut menjadi perhatian kita bersama. Entah sudah kontraksi keberapa dan pembukaan keberapa.
Yang pasti, semua ini menyangkut masa depan peradaban bangsa dan kemanusiaan kita. Setiap dari kita harus peduli, sekecil apa pun.
Jika dibiarkan, saya khawatir ini akan menjadi bom waktu yang suatu hari bisa meledak hebat—dan kita semua hanya bisa menyesal nanti. Wallahu a’lam. ***